Andai Petahana Tidak Panik, Guru-ku Takkan Ditarik ke Medan Tempur Politik

oleh -1.099 views

TEWENEWS, Banjarbaru -“PANIK” itulah kata yang tepat untuk menggambarkan situasi Petahana saat ini. Mencengangkan memang, Denny Indrayana yang sebelumnya dinilai hanya sebagai penggembira Pilgub semata, rupanya bisa melaju sejauh ini. “Kekuatan” besar sang Petahana dibandingkan “seonggok” Denny Indrayana, rupanya terjungkal sampai ke tanah. Apalagi pasca putusan MK, Petahana justru tertinggal 22ribu suara. Rupanya, kepanikan ini pada akhirnya memaksa nama besar nan kharismatik, Guru Wildan, untuk terseret ke dalam pusaran politik. Sangat disayangkan, mengapa ada pihak yang tega meletakkan Sang Guru di tengah perang.

Sebelumnya, adanya Denny Indrayana dalam perhelatan Pilgub Kalsel ini hanya dianggap sebagai pemanis semata. Meskipun putra asli Banua yang lahir di Kotabaru dan Tokoh Nasional (Aktivis Anti Korupsi dan Mantan Wakil Menteri SBY), gelar tersebut dirasa tidak mampu memberikan dampak signifikan dihadapan Sahbirin Noor, ditambah Petahana menggandeng Muhidin, calon kepala daerah terkaya di Indonesia, sosok yang sempat menjadi rival Petahana dalam Pilgub 2015.

Ketika masuk ke masa kampanye, bukti kekuatan Petahana semakin terasa. Spanduk dan baliho Denny Indrayana sangat sedikit dan kecil, jauh berbeda dengan milik Petahana yang memenuhi ruas-ruas jalan, besar pula ukurannya. Tidak hanya dalam spanduk, sosialisasi Petahana sangat kencang melalui bakul bantuan covid, iklan, radio, dan fasilitas lain. Sementara Denny hanya bisa menggalakkan sosialisasi anti politik uang bersama para relawan, untuk menciptakan pilkada yang bermartabat, menciptakan banua yang adil dan sejahtera.

Baca Juga :   Pengumuman KPPS Terpilih Molor, Tim Hukum H2D PertanyakanProfesionalitas KPU Kalsel dan KPU Banjarmasin

Menjelang pemungutan suara, Partai Golkar merilis survey yang mencengangkan, Sahbirin-Muhidin akan memenangkan Pilgub dengan raihan suara mencapai 70%. Sementara Denny? ah dia hanya calon bayangan, untuk bayar spanduk saja tidak sanggup, apalagi menyewa lembaga survey.

Mengejutkan, hasil quick count beberapa lembaga survey justru sempat mengunggulkan H2D dibanding BirinMu. Seluruh analisa sebelumnya rontok, Denny mampu bersaing. Bantuan Bakul Covid-19, Bantuan Jaring Pengaman Sosial, dan bantuan lainnya yang banyak dikeluarkan menjelang pemungutan suara seakan tidak ada harganya. Seakan tidak ada seorang pun yang mengingat kinerja Petahana 5 tahun belakangan ini. Semuanya terjungkal, hingga akhirnya Denny hanya tertinggal 8ribu suara, itupun dibatalkan oleh MK akibat ada kecurangan, sehingga saat ini Sahbirin yang tertinggal 22ribu suara.

Kondisi ini membuat kapal sang petahana dilanda kepanikan luar biasa. Kita bisa merasakan adanya peningkatan kekuatan berkali-kali lipat dari kubu Petahana. Segala cara ditempuh, namun sangat disayangkan, banyak tindakan-tindakan yang justru membabi buta dan tidak tepat sasaran. Salah satunya adalah menarik Guru Wildan dalam perang terbuka.

Baca Juga :   Gerakan Revolusi Hijau Di Kalsel Semakin Masif

Tepatnya pada 13 April 2021, ceramah Guru Wildan yang berisi arahan untuk memilih Sahbirin Noor beredar luas di masyarakat. Bahkan diiklankan secara berbayar oleh beberapa orang di facebook sehingga menjangkau ratusan ribu pasang mata. Ceramah ini juga diklasifikasikan sebagai salah satu peningkatan kekuatan Petahana menjelang PSU. Namun, bukan buah manis yang didapat, justru sebaliknya. Banyak pihak yang menyayangkan tindakan tersebut. Bukan tanpa sebab atau hanya sekedar alasan politis semata, namun tindakan tersebut bertentangan dengan wasiat Tuan Abah Guru Sekumpul yang sangat menekankan netralitas ulama. Seketika itu pula terngiang pesan Abah Guru “Semua ulama harus netral … jangan ikut-ikutan di bidang suudzon / politikus … jelas?? ada yang tersinggung??..” Ramai-ramai, berbagai pihak justru mengkritik ceramah Guru Wildan.

Tidak puas sampai disitu, oknum yang berdiri pada barisan Petahana kembali mengolah kritik tersebut menjadi bahan untuk menyerang, lagi-lagi ditembakkan ke Denny Indrayana. Sekali lagi, gaya tersebut rupanya sudah tidak diminati pemilih di Kalsel. Alih-alih menjadi serangan, justru banyak pihak yang menyayangkan tindakan mengadu ulama dengan pasangan calon. Hal ini juga menjadi “bisik-bisik tetangga” di kalangan para santri, betapa sangat disayangkan pasangan calon yang menggunakan ulama sebagai tameng pelindung. Akan lebih baik jika sebaliknya, Umara yang bertindak sebagai pelindung Ulama.

Baca Juga :   Denny Indrayana Advokasi Ribuan Petani Kotabaru Yang Lahannya Dirampas Perusahaan Sawit Haji Isam

Nasi sudah menjadi bubur, cuplikan video sudah tersebar begitu masif dan sukses menjadi pengalih isu soal kritisi banjir, lingkungan, keadilan, dan yang lainnya. Kini semua mengarah ke Sang Guru. Bagus untuk pihak tertentu, tapi sangat tidak bagus untuk Sang Guru itu sendiri. Dan tentunya menyisakan pertanyaan mendalam, mengapa tega menyeret Sang Guru ke medan perang politik terbuka?

Dari peristiwa ini kita semua belajar untuk memperhitungkan dengan matang langkah apa yang akan dilakukan, jangan sampai langkah tersebut hanya menguntungkan diri sendiri tapi mengorbankan banyak pihak. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Bukan yang mencelakakan manusia lain demi kepentingan pribadi dan golongan semata. Wallahu bishowab. Salam.

Tulisan adalah opini dari Penulis,seorang santri biasa yang terus menuntut ilmu.(*/Tim)