Bentuk Toleransi Tiga Agama di Satu Dusun, Kecamatan Ngoro Jombang

oleh -256 views

TEWENEWS, Jombang – Tak jelas sejak kapan masjid ini berdiri, namun masjid yang pernah direnovasi ini menjadi saksi sejarah kerukunan umat dalam satu Desa, seperti pantauan kami masjid hampir berdekatan dengan gereja dan pura. berjarak hanya kurang lebih 100 meter. Meski dekat, umat beragama di tiga tempat ibadah ini tak pernah ribut apalagi terlibat konflik atas nama agama.

Kepala Dusun Ngepeh, Sungkono mengatakan, di dusun yang ia mimpin memang terdapat tiga umat beragama yaitu Islam, Kristen, dan Hindu. Menurutnya, sejak lama tiga umat beragama ini mampu tumbuh dan hidup dengan sangat toleran. “Jaman nenek moyang, tiga agama ini sudah ada di Ngepeh. Tidak tahu ceritanya dulu bagaimana kok bisa hidup bersama,” ucapnya, Minggu  (27-01-2019) pagi.

Kerukunan umat beragama di Dusun Ngepeh, lanjut Sungkono juga sangat kuat, meski ada beberapa peristiwa konflik atas nama agama yang terjadi di Indonesia. “Saat terjadi peristiwa 98 pun, masyarakat Dusun Ngepeh tidak terpengaruh. Begitu juga dengan peristiwa SARA lainnya, disini tetap hidup rukun dan damai “.

Baca Juga :   Jaga Kamtibmas, Babinsa Nusawungu Rutin Sambangi Poskamling

“Mereka yang Kristen atau Hindu, tak pernah merasa terganggu dengan speaker (pengeras suara, Red) masjid. Warga muslim juga tak pernah risih dengan adanya kebaktian di gereja dan sembahyang di pura,” imbuh Sungkono.

Bahkan dalam urusan makam pun, umat Islam dan Kristen di Dusun Ngepeh ini sepakat menggunakan satu lahan. “Makam satu lokasi, tidak ada perbedaan antara Islam dan Kristen. Ketika ada warga Kristen meninggal, warga Islam juga ikut mengantarkan ke makam. Ini sudah tradisi di dusun kami,” pungkasnya.

Sementara jumlah penduduk di Dusun Ngepeh, kurang lebih 1.500 jiwa. Untuk masyarakat yang beragama Kristen, terdapat kurang lebih 80 jiwa. Sedangkan yang beragama Hindu terdapat kurang lebih 60 jiwa. Sisanya adalah masyarakat Muslim.

Baca Juga :   Operasi Damai Cartenz 2022, 1 Kompi Pasukan Brimob Kalteng Tiba di Papua

Kami mencoba menggalih informasi kepada warga sekitar, yang rumahnya tidak jauh dari masjid Quba’.
salah satu warga Ratna ia menjelaskan, ” memang bentuk toleransi beragama di Dusun Ngepeh ini terlihat sangat kuat bahkan dalam hal-hal yang sangat kecil. Salah satu contohnya, warga bergama Hindu dan Kristen hampir tak pernah absen ikut iuran konsumsi saat ada jadwal pengajian di Masjid Quba. Mereka justru merasa tersinggung, jika takmir masjid tidak memberi tahu kalau ada pengajian di masjid, ” terangnya.

Sementara, H.Muhammad Ali Anshori mengaku ini yang unik dari warga Hindu dan Kristen di Dusun Ngepeh, ada tarikan (iuran, Red) nasi kotak untuk pengajian mereka selalu ikut. Guyonannya kepada kami, meski non muslim mereka juga menyebut sebagai warga Nahdlatul Ulama,” kata Ketua Takmir Masjid Quba , saat kami temui minggu pagi.

Baca Juga :   Danramil 03/GP beserta Keluarga Besar Koramil 03/GP Mengucapkan Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1941

Tak hanya aktif berpartisipasi menyumbang konsumsi pengajian, warga non muslim di Dusun Ngepeh juga sering membantu warga ketika ada kegiatan peringatan hari besar Islam (PHBI). Mulai dari meramaikan takbir keliling menyambut Idul Fitri, hingga terlibat sebagai panitia hari raya Idul Adha. “Mereka justru tersinggung kalau tidak diajak,” lanjutnya.

Untuk warga muslim, menurut Ali juga sering terlibat dalam pengamanan gereja ketika hari raya Natal atau hari besar lain. “Warga muslim juga sering jaga parkir kendaraan umat Hindu yang sembahyang di pura,” tambah Muhammad Ali.

Kuatnya toleransi beragama inilah yang membuat Dusun Ngepeh sering jadi jujugan studi banding beberapa organisasi keagamaan. Bahkan menjadi obyek penelitian beberapa perguruan tinggi di Indonesia. (Joko)