Damang Umat Kaharingan Mensinyalir Ritual Wara Dijadikan Ajang Bisnis

TEWENEWS, Muara Teweh –  Adanya dugaan ritual rukun kematian dari umat kaharingan atau yang sering kita dengar dengan istilah wara, sering kali di jadikan ajang bisnis oleh pihak tertentu. Apabila ritual wara tidak sesuai dengan alur pelaksanaanya hal ini bisa di anggap sebagai penistaan terhadap Agama Kaharingan.

Damang sekaligus Ketua Majelis Agama Kaharingan Indonesia (MAKI) Sukarni, S. Ag, SH, M.Si. Kamis, pukul 15.30 WIB, mengunjungi tempat pelaksanaan ritual wara di jalan Simpang menuju Desa Malawaken Km 2.

Kunjungan tersebut untuk melihat secara langsung pelaksanaan ritual wara, pasalnya beberapa tahun belakangan ini sebagai Ketua MAKI dirinya banyak menerima pengaduan dari masyarakat sekitar terutama umat yang beragama Kaharingan.

Sukarni memaparkan dalam kurun waktu 4-5 tahun belakangan ini, pelaksanaan wara disinyalir hanya berputar di tiga tempat yaitu, Simpang Teluk Mayang, di Kampung Jingah dan di Jalan Pendreh.

” Di rumah dan lokasi tempat pelaksanaannya, saya tidak melihat kelengkapan sebagaimana pelaksanaan ritual rukun kematian (wara) yang biasanya di lakukan oleh umat Kaharingan tapi yang ada dalam rumah hanya kelengkapan panyawayan dan Mandong,” ujarnya.

Baca Juga :   Dison dan Natalius Klarifikasi Terkait Ritual Wara di Simpang Teluk Mayang Km 2 Muara Teweh

Saya lanjut Sukarni, tidak melihat adanya hewan Kerbau yang akan di korbankan, bahkan tidak ada petugur, pihak pelaksana tidak menunjukan kepada saya dimana tempat upacara pembunuhan korban, selain itu saya juga tidak melihat adanya perlengkapan lain seperti penyambutan tamu.

” Saya berserta rombongan hanya di sambut dengan setengah gelas kopi yang dibuat oleh istri Kandong itu sendiri, disitu tidak ada makanan seperti cucur, gagatas, lamang, lapat, seperti selayaknya pelaksanaan wara untuk menyambut para tamu dan keluarga, diluar ada ratusan pengunjung yang hanya menghadap lapak dadu gurak,” ungkapnya.

Menurutnya pihak pelaksana wara tersebut acaranya selama 21 hari, dan wara tersebut adalah pelaksanaan rukun kematian adik kandungnya sendiri yang kuburnya berada di desa jingah. (Hison).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: