Hubungi Kami

NASIONAL

Danramil 03/GP beserta Keluarga Besar Koramil 03/GP Mengucapkan Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1941

Published

on

TEWENEWS, Jakarta Barat – Hari Kamis mendatang (7/03/2019) adalah merupakan hari raya Nyepi Tahun Baru Saka 1941/2019 yang akan dirayakan oleh seluruh umat Hindu baik di Indonesia maupun di seluruh belahan dunia.

Untuk itu, Danramil 03/Grogol Palmerah Kodim 0503/Jakarta Barat Kapten Inf. Jefriansen Sipayung, SE turut mengucapkan selamat hari raya Nyepi bagi seluruh umat Hindu yang merayakannya.

“Saya Danramil 03/GP beserta segenap keluarga besar Koramil 03/GP Kodim 0503/JB mengucapkan ‘Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1941’ bagi seluruh umat Hindu yang merayakannya,” ucap Danramil 03/GP Kapten Inf. Jefriansen Sipayung, SE kepada awak media, Selasa (5/03/2019) Pagi.

“Rahajeng nyanggra rahina Nyepi caka 1941, dumogi prasida ngalaksanayang Catur Brata Penyepian (Selamat menyambut hari Nyepi caka 1941, semoga dapat melaksanakan Catur Brata Penyepian,” tambah Danramil 03/GP.

Menurut data dan informasi, Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun Baru Saka.

Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit.

Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta). Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali. Tahapan itu adalah Melasti, Tawur (Pecaruan), dan Pengrupukan

Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) diarak ke pantai atau danau, karena laut atau danau adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala leteh (kotor) di dalam diri manusia dan alam.

Baca Juga :   Antisipasi Gangguan Kamtibmas, Polres Jakbar Gelar Patroli Gabungan

Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada “tilem sasih kesanga” (bulan mati yang ke-9), umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya di segala tingkatan masyarakat, mulai dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan, dan seterusnya, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), dan Tawur Agung(besar).

Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Buta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima) warna berjumlah 9 tanding/paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Buta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Buta Raja, Buta Kala dan Batara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.

Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus di Bali, pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.

Keesokan harinya, yaitu pada pinanggal pisan, sasih Kedasa (tanggal 1, bulan ke-10), tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya. Pada hari ini suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktivitas seperti biasa. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan “Catur Brata” Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadhi. (M.Solichin)

id_IDIndonesian
id_IDIndonesian