Dinas Pertanian Bartim Ajarkan Murid SDN 3 Tamiang Layang, Bercocok Tanam Cara Modern

oleh -274 views

TEWENEWS, Tamiang Layang – Anak-anak sekolah dasar , pada umumnya, akan melihat pertanian sesuai yang ditawarkan oleh media atau saat berkunjung ke desa. Petani membawa cangkul, lahan sawah dan kebun karet atau sawit yang luas dan berjibaku dengan tanah dan lumpur.

Namun, pengembangan kebun hidroponik di SDN 3 tamiang layang kabupaten Barito Timur, Kalteng, ternyata bisa menumbuhkan kultur menanam bagi siswa. Pertanian yang dikenal anak-anak semula indentik dengan pakaian lusuh, tangan kotor dan kaki berlumpur. Para murid belajar bahwa menanam bisa dilakukan dengan mudah dan tidak melelahkan.

Kepala Sekolah SDN 3 siono, S.Pd, MM kembali mengundang penyuluh pertanian dari BPP Dusun Timur dan dari Dinas Pertanian Bartim, yang memberikan pelatihan dasar tentang pertanian hidroponik.

Konsep menanam diberikan dengan cara yang gembira sehingga anak-anak belajar dengan antusias. Sekitar 35 anak-anak dari Kelas 6 SD dan para guru ikut dalam pelatihan kebun hidroponik di halaman sekolah SDN 03 Tamiang Layang.

“Kami bawa hidroponik ke sekolah karena memang kami pikir ini penting dan termasuk dalam pendidikan lingkungan hidup pada kurikulum dan juga Adiwiyata,” ujar siono , yang berarti rumah pertanian dalam bahasa Indonesia. “Kami menunjukkan bahwa tanaman pun bisa tumbuh tanpa pestisida, ringkas, dan tak mengotori tangan.“

Para murid dan guru kemudian memprakarsai pembangunan kebun hidroponik. pipa-pipa paralon sepanjang delapan meter dengan model DFT . Pipa paralon yang tersusun bisa memuat total 100 lubang tanam netpot .

Untuk uji coba, para murid diberikan bibit tanaman pokcoy dan selada dan rockwool, media tanam hidroponik, dan disemai di rumah guru bapak mandolin, S.Pd. Para murid ini diberikan tanggung jawab untuk memantau tanaman setiap pagi, memperhatikan hama yang mengganggu, memastikan mendapatkan sinar matahari yang cukup hingga asupan nutrisi.

Ketika bibit tersebut sudah berdaun, para murid membawanya ke kebun sekolah untuk ditanam di pipa paralon yang sudah disiapkan.

“Di sini hal utama yang kami ajarkan adalah tentang tanggung jawab,” ujar ibu Sri selaku guru , pengampu pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) yang juga merupakan penanggung jawab kelompok kerja kebun hidroponik sekolah.

“Hasil penjualan itu nantinya kami gunakan untuk membeli bibit sayur, rockwool, dan nutrisi untuk musim tanam berikutnya,” tambah bapak mandolin .

“Anak-anak di tamiang layang kabupaten Barito Timur, tak paham tentang sayuran yang mereka makan. Mereka makan selalu disediakan dan beli,” ujar siono . “Kami mengupayakan menanam sayuran yang hari-hari dimakan oleh anak-anak.”

Mengevaluasi keterlibatan langsung peserta didik di kebun hidroponik sekolah, siono melihat bahwa ada perubahan sikap yang cukup nyata dari anak-anak didiknya terhadap lingkungan.

Siswa yang semua kurang paham dan bahkan tak peduli tentang pemanfaatan lingkungan dan ruang terbuka hijau menjadi lebih paham. “Dari cuek pada lingkungan, mereka menjadi perhatian terhadap lingkungan,” ujar mandolin.

Selain itu, para murid mulai memiliki pemahaman dan apresiasi yang berbeda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Sebelumnya, dalam pikiran mereka bertani itu identik dengan cangkul, lumpur, dan lahan yang sangat luas.

“Tapi, ternyata setelah diperkenalkan cara bertani modern dengan hidroponik, cara pikir mereka jadi berbeda,“ ungkap Mandolin yang bahagia dengan perubahan ini.

“Ternyata menanam sayur itu tidak ribet ya, tidak butuh tanah, tidak butuh pupuk,” kata nila salah seorang siswa kelas VI.(DPB/TWN5)