Dison dan Natalius Klarifikasi Terkait Ritual Wara di Simpang Teluk Mayang Km 2 Muara Teweh

TEWENEWS, Muara Teweh – Dison dan Natalius, S.Pd. selaku pelaksanaan wara di Simpang Teluk Mayang Km 2 memberikan hak jawab terkait ada kekurangan bahan dalam melaksanakan ritual rukun kematian almarhum adik kandung mereka bernama Tan.

Mereka mengatakan sebagaimana pelaksanaan ritul wara kemaren telah berakhir pada hari Minggu, 11 Agustus 2019, ” Kami betul-betul melakan Ritual rukun kematian wara, tetapi kami tidak tahu tentang kelengkapan ritual kerna sepenuhnya yang mengetahui kelengkapan itu adalah Kadong atau pawang wara,” ujarnya di kantor biro tewenews, Senin (12/8/2019).

Dison mengatakan jika ada pihak yang menganggap kurang kelengkapan dalam pelaksanaan bahkan pelayanan acara, kami mohon maaf yang sedalam-dalamnya, kerna hanya seperti itulah kemampuan kami untuk pelaksanaan rukun kematian adik kandung kami.

“Kami sudah melengkapi persyaratan sebagaimana rekomendasi dan surat pemberian ijin dari tokoh lebaga dan tokoh adat sebagaimana permohonan ijin kesepakatan dari kami keluarga,” pungkasnya.

Seperti di beritakan pada tanggal 10 Agustus 2019 lalu, Damang sekaligus Ketua Majelis Agama Kaharingan Indonesia (MAKI) Sukarni, S. Ag, SH, M.Si. Kamis, pukul 15.30 WIB, mengunjungi tempat pelaksanaan ritual wara di jalan Simpang teluk mayang menuju Desa Malawaken Km 2.

Kunjungan tersebut untuk melihat secara langsung pelaksanaan ritual wara, pasalnya beberapa tahun belakangan ini sebagai Ketua MAKI dirinya banyak menerima pengaduan dari masyarakat sekitar terutama umat yang beragama Kaharingan.

Baca Juga :   BPHD AMAN  Fasilitasi Pertemuan Penting Membahas Ritual Adat Wara

Sukarni memaparkan dalam kurun waktu 4-5 tahun belakangan ini, pelaksanaan wara disinyalir hanya berputar di tiga tempat yaitu, Simpang Teluk Mayang, di Kampung Jingah dan di Jalan Pendreh.

” Di rumah dan lokasi tempat pelaksanaannya, saya tidak melihat kelengkapan sebagaimana pelaksanaan ritual rukun kematian (wara) yang biasanya di lakukan oleh umat Kaharingan tapi yang ada dalam rumah hanya kelengkapan panyawayan dan Mandong,” ujarnya.

Saya lanjut Sukarni, tidak melihat adanya hewan Kerbau yang akan di korbankan, bahkan tidak ada petugur, pihak pelaksana tidak menunjukan kepada saya dimana tempat upacara pembunuhan korban, selain itu saya juga tidak melihat adanya perlengkapan lain seperti penyambutan tamu.

” Saya berserta rombongan hanya di sambut dengan setengah gelas kopi yang dibuat oleh istri Kandong itu sendiri, disitu tidak ada makanan seperti cucur, gagatas, lamang, lapat, seperti selayaknya pelaksanaan wara untuk menyambut para tamu dan keluarga, diluar ada ratusan pengunjung yang hanya menghadap lapak dadu gurak,” ungkapnya.

Menurutnya pihak pelaksana wara tersebut acaranya selama 21 hari, dan wara tersebut adalah pelaksanaan rukun kematian adik kandungnya sendiri yang kuburnya berada di desa jingah. (Hison).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: