Enam Warga Hayaping Yang Dipidanakan Oleh PT. KSL Keluarganya Minta Agar Dibebaskan

TEWENEWS, Tamiang Layang – Perwakilan keluarga dari enam orang warga Hayaping kecamatan Awang kabupaten Barito Timur (Bartim) provinsi Kalimantan Tengah, yang saat ini ditahan Polda Kalteng terkait sengketa lahan dengan PT. Ketapang Subur Lestari (KSL) meminta agar keluarganya dibebaskan.

Hal tersebut disampaikan dua orang perwakilan dari pihak keluarga bernama Pundut dan Juker “Kami meminta agar keenam keluarganya yang di tahan di Polda Kalimantan Tengah”, ucapnya di Tamiang Layang, Senin (23/03/2020)

Menurut Pundut, penahanan keenam warga tersebut terkait permasalahan pihak keluarganya (Yandril Cs) yang di Tahan di Polda Kalimantan Tengah atas dugaan pencurian di Kebun karet PT. KSL yang berada di Desa Janah Jari Kecamatan Awang Bartim beberapa waktu yang lalu.

Diterangkan keduanya, tanah yang menjadi sengketa antara masyarakat dengan Pihak PT. KSL tersebut dimulai sejak tahun 1993, dimana Perusahaan yang bergerak di tanah Keturunan masyarakat tersebut bernama PT. SIL (Sendhabi Indah Lestari), yang bergerak di Bidang Perkebunan Karet.

kemudian terjadi Penjualan Asset (Take Over) dari PT. SIL ke PT. KSL belum lama ini, nah dari sinilah kata pundut, permasalahan ini berlanjut, sebelumnya beberapa kali sudah dilakukan Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) oleh DPRD dan Pemkab Bartim namun dari mediasi yang di lakukan oleh Badan Legislatif dan Eksekutif di Kabupaten Barito Timur tersebut, juga tidak mendapatkan keputusan yang dapat di jadikan pedoman ataupun pengangan dari kedua belah pihak.

Dilanjutnya, mereka sangat terkejutkarena sekitar tiga minggu yang lalu, tiba-tiba kami di panggil dan di tahan di Polda Kalimantan Tengah dengan dugaan pencurian karet, ungkapnya keheranan. Kalau yang kita panen sawit milik KSL boleh jadi kita disalahkan, sementara karet yang kita sadap tidak ada sangkut paritnya sama sekali dengan KSL.

Baca Juga :   Patra Jasa Akan Tegas Terhadap Perusahaan Yang Belum Mengisi Formulir Kerjasama

Ketika di tanya sejak kapan mereka menoreh karet di Kebun tersebut, keduanya menyatakan bahwa mereka sudah menyadap karet tersebut berlangsung kurang lebih tiga tahun yang lalu, sejak tahun 2018 dan selama ini tidak ada masalah kami menyadap karet ditempat tersebut, bebernya.

Diakui keduanya, kebun karet yang mereka sadap tersebut memang di tanam oleh PT. SIL, akan tetapi tanah tempat perusahaan karet menanam tersebut yang lokasinya berada di Tangi, Anahum dan Lampus merupakan tanah turun temurun dari nenek moyang mereka. Karena itu dirinya .eminta agar Permasalahan sengketa ini dapat diselesaikan secara adil dan bijak, kata keduanya.

Kami juga sangat heran terhadap cara penanganan menyangkut pembebasan lahan yang dilakukan oleh pihak PT. KSL, dimana oknum penuntut tanah turunan didalam HGU yang mau menerima pembayaran ganti rugi, tidak di permasalahkan.

“Sedangkan Pihak Yandril Cs yang menuntut pengembalian tanah seutuhnya untuk dikelola mereka sendiri kok di permasalahkan, serunya. Untuk itu keduanya berharap agar permasalahan ini dapat di selesaikan dengan baik

Saat ini kami prihatin dengan keluarga kami,karena istri dan anak -anaknya merasa sangat kehilangan, karena merekalah yang selama ini menjadi tulang punggung keluarganya dan saat ini sedang ditahan, pungkasnya. (Ahmad Fahrizali).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: