Hubungi Kami

BARITO UTARA

Ibu Paroh Baya Ikut Ba’ayun di Mesjid Jami Muara Teweh

Published

on

TEWENEWS, Muara Teweh – Hj Murni, 52, terlihat canggung kala prosesi ba’ayun mulai digelar di Mesjid Jami, Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara (Barut). Ibu paroh baya ini, merupakan salah satu peserta tradisi merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi Muhammad SAW, di Mesjid Jami tahun 2018 ini.

“Peserta ba’ayun di Mesjid Jami Muara Teweh tahun ini ada 65 orang, termasuk Hj Murni umur 52 tahun, yang lainnya umur tiga hingga 10 tahun. Peserta sebenarnya dari malam tadi bertambah, hanya saja dibatasi,” kata Reski, kaum Mesjid Jami Muara Teweh, disela prosesi Ba’ayun, Senin (20/11/2018).

Isak tangis mewarnai prosesi Ba’ayun. Di Indonesia, ada beberapa tradisi perayaan maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1440 Hijiriah, yang selalu digelar saban tahun. Di antaranya adalah pada masyarakat suku Banjar di Kalimantan Selatan, termasuk warga Bakumpai di Muara Teweh.

Pada awalnya, menurut beberapa sumber, tradisi ini untuk mengayun anak-anak balita sembari didoakan agar kehidupannya kelak selalu bertuah dan beruntung. Tradisi ini sudah ada sejak zaman Hindu. Tradisi ini hanya dilakukan oleh para bangsawan, namun belakangan mulai dilakukan juga oleh rakyat biasa.

Seiring masuknya agama Islam, tradisi ini masih dipertahankan namun syair-syair doanya diganti dengan kalimat-kalimat doa kepada Allah dan mengagungkan Nabi Muhammad SAW. Dulu, baayun maulid ini hanya diperuntukkan bagi para bayi yang dilahirkan di bulan Safar karena dipercaya bayi yang lahir di bulan ini membawa sial.

Untuk menghilangkan kesialan itu diperlukan acara tolak bala agar kehidupan sang bayi selalu beruntung. Prosesi acara baayun maulid dimulai dengan pembacaan syair maulid yang dipimpin oleh seorang Tuan Guru (Ulama) dengan diiringi rebana.

Syair-syair maulid yang umum dibawakan pada acara baayun maulid seperti Syair Mawlud Barjanzi, Mawlud Syaraf al-Anam atau Mawlud al-Dayba’i.

Safar adalah salah satu bulan dalam kalender Islam sebelum Rabiul Awal, sehingga ketika perayaan maulid Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awal, bayi-bayi tersebut wajib diayun sembari didoakan dan dilantukan syair-syair selawat nabi.

Pada saat yang bersamaan, ulama yang memimpin pembacaan syair maulid berjalan ke arah ibu-ibu untuk memberikan “tapung tawar” pada masing-masing anak tersebut.

Tapung tawar adalah prosesi memberi doa yang ditandai dengan mengusap jidat setiap anak dan mencipratinya dengan air “tatungkal” yang terdiri dari campuran air, minyak buburih dan rempah-rempah.

Dulu, tradisi ini hanya dilakukan di rumah masing-masing, namun sekarang demi menggalakkan lagi tradisi nenek moyang, beberapa pemerintah daerah di Kalsel dan Kalteng menggelarnya secara massal di tempat-tempat tertentu.(Tim)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian
id_IDIndonesian