Kasus SMKN 1 Gunung Timang Memasuki Babak Baru

oleh -174 views

TEWENEWS, Muara Teweh – Sudah dua tahun lebih,  kasus dugaan kong kalikong pembangunan SMKN 1 Gunung Timang belum ada titik terang. Tentu saja hal ini menimbulkan pertanyaan dari publik. Kenapa kasus ini tak kunjung ada kesimpulannya ?

Kepala Seksi Intel Kejaksaan Negri  Muara Teweh, Bernard Purba ketika di hubunggi Via Pesan Whatsapp pribadinya tetang kasus SMKN 1 Kandui menyampaikan bahwa, kasus itu sudah lama ditangani oleh pihak kepolisian.

“Pihak kepolisian sudah lama melakukan penyelidikan tentang kasus itu, tapi tidak ada tindak lanjutnya,” ujarnya, Selasa ( 15/5)

Ditanya apakah kasus ini akan diambil alih oleh kejaksaan dijelaskan Bernard, bahwa beberapa waktu lalu ada masuk laporan ke Kejaksaan.

Baca Juga :   Satresnarkoba Polres Mura Ringkus Yanto Bersama 43 Paket Sabu

“Kemaren ada laporan masuk ke kantor, coba cek ke kantor saya sekarang sedang pendidikan,” katanya.

Ketidak jelasan kasus ini, bagaimana publik tidak bertanya-tanya, sudah banyak pihak  yang  telah  dimintai keterangan oleh pihak kepolisian, tapi hasilnya masih belum ada.

Sekadar diketahui, bahwa pembangunan SMKN-1 Gunung Timang, di wilaya Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, belakangan kisruh, setelah sejumlah pihak mengaku warga Desa Ketapang, menggugat bangunan didirikan di Desa Kandui.

Menurut penggugat, bahwa disetujuinya alokasi anggaran oleh pemerintah pusat, setelah mereka mengirimkan proposal kepada Subdit Kelembagaan dan Sarana Prasarana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kekecewaan warga, karena setelah alokasi anggaran disetujui bersumber dari APBN, selanjutnya dalam proses pencairan dana justru menggunakan data SMKN-1 Kandui, yang beridiri pada 17 Juni 2016. Dalang sendiri, disebutkan pihak yang merekayasa pembentukan komite sekolah baru tersebut.

Baca Juga :   Pelaku Anirat yang Menewaskan Warga Kampung Negara Sakti Berhasil di Amankan

Dalam hal ini, warga menyebutkan bahwa ada dua nama (E) dan (A), sebagai seseorang yang sebelumnya gentol mengurus prosesi hibah tanah milik warga. Namun keduanya, secara tertulis tidak tertulis dalam sejumlah administrasi. Hanya saja nama (E), disebut sebagai perwakilan komite.

“Kepala sekolah (Asliadi,red) benar-benar tidak mengerti sehingga belakangan muncul gugatan warga bahwa bangunan sejatinya dilokasi Desa Ketapang. Dia menjalankan perintah. Dia harus patuh, karena diancam dipindah ke pelosok,” tegas sumber tewenews.com, dalam kesempatan terpisah.

Dilain pihak, pagu dana sendiri ada ketidaksesuaian antara yang dituliskan di papan pengumuman proyek yang menyebutkan besaran anggaran Rp 2,3 miliar. Padahal dalam surat perjanjian kerjasama Nomor 3526/D5.4/2016 alokasi dana tertulis sebear Rp 2,9 miliar.

Baca Juga :   Diduga ada "Gratifikasi" Dalam Proses Kucuran Dana SMK

Terdiri dari, untuk keperluan pembangunan gedung dan mobiler sebesar Rp 2,6 miliar. Ditambah keperluan lainya, termasuk biaya perencanaan sebesar Rp 3 miliar. Dalam hal ini, Kepala sekolah Asliadi, tidak membantah bila pembangunan gedung mencapai Rp 2,6 miliar.

“Kami memang melakukan tandatangan kontrak perjanjian kerjasama, dimana saya mewakili SMK 1 Gunung Timang dan Moehammad Soleh, Kepala subdit kelembagaan dan sarana prasarana Departemen Pendidikan, selaku pejabat pembuat komitmen kegiatan pembinaan SMK,” jelas Asliadi, dikonfirmasi terpisah. (tim)