Program literasi digital untuk orang tua diluncurkan di Surabaya agar anak lebih aman di internet

Di Surabaya, literasi digital makin dipahami sebagai “keterampilan hidup” yang menentukan kualitas relasi keluarga, bukan sekadar kemampuan memakai gawai. Ketika anak tumbuh bersama layar, tantangan terbesar justru sering datang dari rumah: orang dewasa yang sibuk, kurang paham pola risiko, lalu terlambat merespons. Karena itu, kota ini mendorong program edukasi yang menyasar orang tua—mulai dari ruang belajar berbasis kampung lewat Rumah Literasi Digital, hingga kelas pengasuhan berjenjang seperti SOTH dan Kemangi—agar pendampingan anak lebih nyata, bukan hanya nasihat. Di tahun-tahun terakhir, Surabaya juga belajar dari beragam peristiwa: ajakan viral di grup pesan, misinformasi lokal, sampai konten berbahaya yang menyusup lewat algoritma. Semua itu menegaskan satu hal: aman di internet bukan urusan anak saja, melainkan ekosistem yang harus dibangun bersama, dari RT/RW sampai sekolah. Di tengah arus informasi yang tak pernah tidur, keterampilan memilah, mengelola privasi, dan membangun internet sehat perlu dibiasakan lewat praktik harian yang sederhana, terukur, dan konsisten.

  • Surabaya memperkuat literasi digital sebagai gerakan warga melalui Rumah Literasi Digital (RLD) berbasis RT/RW.
  • Program berjenjang SOTH (anak usia dini) dilanjutkan dengan Kemangi (orang tua anak 10–18 tahun) untuk menghadapi tantangan Gen Z dan Gen Alpha.
  • Fokus utama: keamanan online, pencegahan misinformasi, dan pembentukan kebiasaan pengawasan orang tua yang realistis.
  • RLD mendorong warga memproduksi konten positif dan mengelola informasi kampung melalui skema PAK RW (Rukun Warta).
  • Kolaborasi lintas pihak—Pemkot, TP PKK, jurnalis, komunitas, sekolah—didorong agar pendampingan anak konsisten di rumah dan ruang publik.

Program literasi digital orang tua di Surabaya: dari kelas keluarga hingga gerakan kampung

Peluncuran dan penguatan program edukasi bagi orang tua di Surabaya menunjukkan perubahan strategi: bukan lagi kampanye satu arah, melainkan rangkaian pembelajaran yang menempel pada rutinitas warga. Di lapangan, banyak keluarga menghadapi situasi serupa: anak diberi ponsel untuk belajar, namun akhirnya lebih sering terseret hiburan tanpa batas. Orang tua ingin menolong, tetapi bingung harus memulai dari mana—apakah dari aturan jam layar, dari memeriksa riwayat tontonan, atau dari obrolan soal etika digital. Maka, program yang efektif harus menjawab kebutuhan “hari ini”, bukan teori yang sulit dipraktikkan.

Surabaya mengembangkan pendekatan berlapis. Untuk keluarga dengan anak usia 0–5 tahun, ada Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) yang menekankan pengasuhan dasar, kedekatan emosi, dan kebiasaan komunikasi yang hangat. Lalu, ketika anak masuk usia sekolah dan remaja, tantangan berubah: pergaulan digital, identitas diri, tekanan sosial, hingga ajakan dari grup pesan yang bisa memicu keputusan impulsif. Pada titik ini, kelas lanjutan seperti Kemangi (Kelas Remaja, Orang Tua Tangguh, Kreatif, dan Mandiri) menjadi relevan karena fokusnya bergeser ke pendampingan remaja, ketangguhan mental, dan penguatan karakter.

Yang menarik, Surabaya tidak hanya mengandalkan ruang kelas formal. Kota ini juga mendorong ekosistem literasi digital dari lingkup terkecil melalui Rumah Literasi Digital (RLD). RLD diposisikan sebagai tempat belajar kolektif yang dekat dengan kehidupan kampung, sehingga warga tidak merasa “digurui”. Model seperti ini menyentuh masalah inti: jarak antara kebijakan dan realitas keluarga sering kali terlalu jauh. Ketika ruang belajar ada di sekitar rumah, orang tua lebih mudah hadir, berdiskusi, dan mencoba langkah-langkah kecil secara konsisten.

Dalam diskusi komunitas, isu aman di internet biasanya muncul dari pengalaman sehari-hari. Misalnya, seorang ibu yang kaget karena anak SD tiba-tiba hafal kata-kata kasar dari video pendek, atau ayah yang baru menyadari akun gim anak terhubung dengan chat publik. Situasi seperti ini tidak selesai dengan melarang internet, sebab sekolah, tugas, dan komunikasi keluarga pun sudah terlanjur bergantung pada penggunaan teknologi. Solusinya adalah membangun kebiasaan: menamai risiko, membuat aturan yang disepakati, dan mengukur perubahan perilaku secara realistis.

Di sisi lain, Surabaya juga belajar bahwa literasi digital orang tua tak bisa dilepaskan dari kualitas infrastruktur informasi. Ketika jaringan bermasalah, misalnya, keluarga cenderung mencari alternatif akses yang tidak aman (Wi-Fi publik tanpa perlindungan). Perspektif ini mengingatkan bahwa ketahanan digital juga terkait layanan publik; sebagai bacaan pembanding, isu pemulihan jaringan di daerah lain dapat dilihat pada laporan pemulihan jaringan Aceh. Pada akhirnya, gerakan Surabaya bertumpu pada satu prinsip: orang tua bukan “polisi internet” yang menakutkan, melainkan mitra yang menuntun anak memahami risiko dan bertanggung jawab.

Rumah Literasi Digital (RLD) Surabaya dan PAK RW: membangun ekosistem informasi sehat dari RT/RW

Rumah Literasi Digital (RLD) di Surabaya lahir dari kegelisahan yang sederhana namun krusial: kesenjangan kemampuan digital di masyarakat membuat sebagian warga mudah tertinggal, mudah tertipu, atau mudah terpancing emosi oleh arus informasi. RLD digagas oleh pegiat media dan praktisi IT, bersama jejaring jurnalis, dan diresmikan di kawasan Sidodadi Kulon. Orientasinya jelas: literasi digital tidak cukup diajarkan sebagai “cara pakai aplikasi”, tetapi harus menjadi gerakan sosial yang membenahi cara warga mengelola informasi, menguatkan kreativitas, serta melahirkan kemandirian.

Program utama yang sering dibicarakan dalam ekosistem RLD adalah PAK RW (Rukun Warta). Idenya adalah mendorong warga, dari level RT/RW, untuk terlibat langsung dalam produksi informasi lokal yang positif: pengumuman kegiatan, edukasi layanan publik, klarifikasi isu, hingga promosi UMKM setempat. Dalam praktiknya, PAK RW dapat mengubah grup percakapan yang sebelumnya penuh spam dan debat menjadi saluran informasi yang lebih tertata. Ini bukan pekerjaan mudah, karena budaya “forward dulu, cek belakangan” sudah terlanjur kuat. Namun, ketika warga dilatih menulis ringkas, memverifikasi sumber, dan memberi konteks, kualitas percakapan kampung ikut naik.

Dukungan lurah setempat dan rencana mengajak Karang Taruna belajar bersama di RLD memperlihatkan bahwa literasi digital bisa dibangun lintas generasi. Remaja dan pemuda cenderung cepat menguasai aplikasi, sementara orang tua lebih kuat dalam memahami norma sosial dan batasan yang aman. Ketika keduanya bertemu di ruang belajar, muncul pembagian peran yang sehat: anak muda membantu teknis, orang tua menjaga nilai dan etika, lalu jurnalis memberi standar verifikasi. Pola kolaborasi semacam ini membantu keluarga membicarakan keamanan online tanpa saling menyalahkan.

RLD juga membuka peluang sinergi dengan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) sebagai jembatan antara pemerintah dan warga. Bila KIM kuat, informasi layanan—dari kesehatan, pendidikan, hingga kebencanaan—lebih cepat diterima, sekaligus aspirasi warga lebih mudah dirangkum. Pada level keluarga, dampaknya terasa nyata: orang tua tidak kebingungan mencari informasi yang benar, sehingga tidak mudah terjerat hoaks yang memicu kepanikan. Pendekatan ini juga sejalan dengan tren smart city: teknologi bukan hiasan, melainkan alat untuk memperkuat daya tahan sosial.

Untuk menjaga arah gerakan, RLD dapat menerapkan kebiasaan editorial sederhana yang meniru praktik redaksi media: ada cek fakta minimal dua sumber, ada penanggung jawab konten, serta ada koreksi terbuka bila terjadi kesalahan. Warga pun belajar bahwa “benar” lebih penting daripada “cepat”. Refleksi ini relevan dengan perkembangan kota lain yang juga menata teknologi berbasis data; misalnya, gagasan sensor pintar untuk kualitas udara mengajarkan pentingnya data yang akurat sebelum mengambil keputusan publik, sebagaimana dibahas dalam kajian sensor pintar udara di Bandung. Di akhir hari, kekuatan RLD terletak pada kedekatannya: ia memulihkan ruang percaya di kampung, sehingga anak dan orang tua punya fondasi sosial yang melindungi mereka di dunia digital.

Dengan fondasi komunitas yang kuat, pembahasan berikutnya menjadi lebih tajam: bagaimana orang tua menerjemahkan literasi digital menjadi aturan rumah yang efektif dan disepakati bersama.

Aman di internet dimulai dari rumah: pola pengawasan orang tua yang realistis dan tidak menghakimi

Tujuan besar dari literasi digital bagi orang tua sebenarnya sederhana: membuat anak aman di internet tanpa mematikan rasa ingin tahu dan kreativitas. Tantangannya, banyak keluarga terjebak pada dua ekstrem: membiarkan anak bebas karena “yang penting diam” atau melarang total karena takut. Dua-duanya cenderung gagal, sebab internet sudah menjadi bagian dari sekolah, pertemanan, bahkan aktivitas keagamaan dan hobi. Yang dibutuhkan adalah pengawasan orang tua yang terukur: jelas aturannya, jelas alasannya, dan ada ruang dialog ketika terjadi pelanggaran.

Agar realistis, orang tua perlu memetakan risiko berdasarkan usia. Anak SD umumnya rentan pada konten tidak pantas dan pembelian dalam aplikasi. Remaja rentan pada tekanan sosial, sextortion, doxing, serta ajakan berkelompok yang memicu tindakan tanpa pikir panjang. Dalam konteks Surabaya, kisah pelajar yang ikut ajakan dari grup pesan tanpa memahami tujuan menjadi pelajaran penting: orang tua tidak cukup hanya menasihati “jangan ikut-ikutan”, tetapi perlu membangun kebiasaan anak untuk bertanya: siapa yang mengajak, apa tujuannya, apa konsekuensinya, dan apakah ada cara lain yang lebih aman.

Praktik di rumah bisa dimulai dari “kontrak digital keluarga”. Ini bukan dokumen kaku, melainkan kesepakatan sederhana yang ditempel di kulkas atau disimpan di catatan ponsel. Kontrak itu biasanya memuat jam layar, zona bebas gawai (misalnya meja makan), aturan akun (tidak berbagi kata sandi pada teman), serta kewajiban melapor bila menerima pesan yang membuat tidak nyaman. Yang penting, kesepakatan disusun bersama anak agar mereka merasa punya kendali dan tanggung jawab, bukan sekadar objek aturan.

Langkah praktis keamanan online yang bisa diterapkan hari ini

Beberapa keluarga merasa “tidak paham teknologi” sehingga menyerah sebelum mencoba. Padahal, banyak langkah keamanan online yang tidak memerlukan kemampuan teknis tinggi. Kuncinya adalah konsistensi dan kebiasaan komunikasi yang terbuka. Berikut contoh daftar tindakan yang dapat dijadikan rutinitas mingguan.

  • Audit aplikasi: bersama anak, cek aplikasi apa yang dipasang dan hapus yang tidak digunakan.
  • Periksa pengaturan privasi: pastikan akun media sosial tidak terbuka untuk orang asing, terutama bagi anak.
  • Aktifkan autentikasi dua langkah pada akun penting keluarga (email, marketplace, dompet digital).
  • Latihan respons: simulasi “kalau ada orang asing minta foto/alamat, jawab apa?” agar anak siap.
  • Ritual cerita 10 menit: sebelum tidur, anak bebas bercerita apa yang dilihat online tanpa takut dimarahi.

Contoh konkret: Raka, siswa SMP di Surabaya (tokoh ilustratif), pernah menerima DM dari akun tak dikenal yang menawarkan “endorse” dengan imbalan pulsa. Ayahnya tidak langsung merampas ponsel. Mereka membuka profil bersama, memeriksa jejak akun, lalu membahas ciri penipuan dan risiko data pribadi. Hasilnya, Raka justru merasa dipercaya dan lebih cepat melapor jika ada hal serupa. Pola seperti ini menumbuhkan “alarm internal” pada anak, yang jauh lebih kuat daripada kontrol sepihak.

Untuk memperkaya pendekatan, orang tua dapat belajar dari isu kesehatan mental yang berkaitan dengan konsumsi digital. Tekanan sosial, komentar negatif, dan FOMO sering memicu kecemasan. Perspektif komunitas di kota lain menunjukkan pentingnya dukungan sebaya dan ruang aman untuk bercerita; lihat misalnya catatan komunitas kesehatan mental di Bandung. Pada akhirnya, pengawasan yang berhasil adalah yang membuat anak merasa dilindungi, bukan diawasi terus-menerus—dan itu hanya mungkin bila hubungan emosional di rumah dijaga.

Ketika kebiasaan rumah mulai terbentuk, tantangan berikutnya adalah menyambungkan upaya keluarga dengan program kota dan sekolah agar pesan yang diterima anak tidak saling bertabrakan.

SOTH dan Kemangi di Surabaya: pendidikan keluarga berjenjang untuk orang tua anak dan remaja

Program pendidikan keluarga di Surabaya berkembang sebagai jalur berjenjang, karena kebutuhan pengasuhan berubah seiring umur anak. SOTH dirancang untuk orang tua dengan anak usia 0–5 tahun, masa ketika fondasi karakter dan keterikatan emosi dibangun. Setelah itu, tantangan masuk ke fase 10–18 tahun: remaja mulai mencari identitas, ingin diakui kelompok, dan cenderung bereksperimen. Di sinilah Kemangi hadir sebagai kelanjutan, bukan pengganti—menjembatani orang tua agar tetap relevan mendampingi Gen Z dan Gen Alpha.

Pengalaman wisuda SOTH yang diikuti ribuan orang tua dari beberapa kecamatan menunjukkan antusiasme sekaligus kebutuhan yang besar. Di tingkat kota, ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan indikator bahwa keluarga mau belajar jika aksesnya jelas dan manfaatnya terasa. Dari sisi materi, Kemangi menempatkan empati, ketangguhan mental, dan komunikasi dua arah sebagai inti. Sebab, banyak konflik digital di rumah sebenarnya berakar dari komunikasi yang terputus: orang tua merasa anak membangkang, anak merasa tidak dipercaya.

Salah satu alasan Kemangi menjadi relevan adalah adanya peristiwa sosial yang melibatkan pelajar yang terbawa ajakan grup pesan pada 2025. Pelajaran pentingnya bukan soal siapa yang salah, melainkan bagaimana keluarga membangun kemampuan anak untuk menilai ajakan. Kemangi dapat mengajarkan teknik “tunda 10 menit”: ketika mendapat ajakan impulsif, anak diminta menunda respons, berkonsultasi, dan memeriksa sumber. Teknik sederhana ini terbukti menurunkan risiko keputusan emosional, terutama saat ada provokasi di media sosial.

Contoh modul yang bisa memperkuat internet sehat di keluarga

Agar program tidak berhenti di kelas, modul perlu diterjemahkan menjadi aktivitas rumah. Orang tua sering membutuhkan contoh yang bisa langsung dipraktikkan, termasuk indikator keberhasilan yang tidak mengawang. Tabel berikut menggambarkan contoh rancangan modul praktis yang selaras dengan tujuan internet sehat dan penggunaan teknologi yang bertanggung jawab.

Modul
Tujuan
Latihan di rumah
Indikator perubahan
Privasi & jejak digital
Anak paham batas data pribadi
Simulasi “data apa yang boleh dibagikan” dan cek pengaturan akun
Anak bertanya sebelum unggah foto/lokasi
Hoaks & verifikasi
Kritis terhadap pesan berantai
Pilih 1 pesan viral, cek sumber, bandingkan 2 referensi
Anak berhenti meneruskan info tanpa cek
Etika komunikasi
Mengurangi konflik dan komentar kasar
Latihan menulis ulang komentar jadi lebih sopan
Bahasa di chat lebih tertib, konflik menurun
Manajemen waktu layar
Keseimbangan belajar-istirahat
Atur jadwal mingguan dan evaluasi tiap Minggu
Tidur lebih teratur, tugas sekolah lebih tepat waktu

Di banyak keluarga, kunci keberhasilan bukan aplikasi kontrol orang tua yang canggih, melainkan kesepakatan yang dijalankan konsisten. Wali kota dan TP PKK juga menekankan peran ayah dan ibu yang seimbang. Ini penting karena anak sering “menguji” aturan: kalau ayah longgar dan ibu ketat (atau sebaliknya), anak akan mencari celah. Saat kedua orang tua satu suara, anak mendapatkan batas yang jelas dan rasa aman.

Untuk memperkaya materi Kemangi, kota dapat mengadopsi wawasan riset terkini tentang perilaku digital dan kecerdasan buatan yang memengaruhi rekomendasi konten. Diskusi mengenai AI dalam kesehatan, misalnya, memberi gambaran bahwa algoritma bisa berdampak besar pada keputusan manusia—dan pemahaman itu bisa ditransfer ke konteks media sosial. Salah satu bacaan terkait dapat dilihat pada riset AI kesehatan dari UI, sebagai contoh bagaimana literasi data dan AI makin relevan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika orang tua sudah memiliki kerangka pendampingan yang berjenjang, langkah selanjutnya adalah membangun kolaborasi yang rapat dengan sekolah dan komunitas agar keamanan anak tidak putus saat mereka keluar rumah.

Kolaborasi sekolah, komunitas, dan pemerintah kota: strategi Surabaya membangun budaya literasi digital yang tahan uji

Budaya literasi digital yang kuat tidak lahir dari satu lembaga saja. Anak bisa patuh di rumah, tetapi terpapar risiko saat di sekolah atau di tongkrongan. Sebaliknya, sekolah bisa gencar mengampanyekan etika digital, namun jika rumah membiarkan tanpa batas, pesan itu cepat menguap. Karena itu, strategi Surabaya yang menggabungkan program keluarga (SOTH dan Kemangi), gerakan kampung (RLD), serta dukungan perangkat daerah menjadi model yang saling menguatkan.

Di tingkat sekolah, kolaborasi yang paling efektif biasanya bukan seminar sekali setahun, melainkan kebiasaan kecil yang berulang. Misalnya, wali kelas menyisipkan 10 menit “cek informasi” saat ada isu viral, atau guru BK membuka kanal konsultasi yang tidak menghakimi. Ketika sekolah terhubung dengan RLD dan KIM, informasi yang benar dapat mengalir lebih cepat ke keluarga. Orang tua pun tidak hanya mendapat peringatan, tetapi juga panduan tindakan yang jelas.

Komunitas jurnalis yang mendampingi RLD memberikan nilai tambah yang sulit digantikan: standar verifikasi dan disiplin editorial. Di era konten pendek, satu narasi bisa menyebar tanpa konteks. Jika kampung memiliki “tim kecil” yang terlatih untuk memeriksa sumber, warga tidak mudah terseret provokasi. Ini sekaligus melatih anak—yang sering melihat orang dewasa sebagai contoh—bahwa berbagi informasi adalah tanggung jawab, bukan kebiasaan impulsif.

Kolaborasi juga menyentuh sisi kreatif. Literasi digital bukan hanya soal mencegah bahaya, tetapi juga memaksimalkan peluang. Anak yang didampingi bisa membuat konten edukatif, proyek sains sederhana, atau promosi kegiatan kampung dengan cara yang etis. Orang tua yang ikut program edukasi dapat belajar membedakan “aktivitas produktif” dan “sekadar scrolling”. Ketika keluarga melihat teknologi sebagai alat berkarya, bukan hanya konsumsi, risiko kecanduan dan konflik biasanya turun.

Studi kasus kecil: keluarga, kampung, dan sekolah bergerak serempak

Bayangkan sebuah RT di Surabaya yang terhubung dengan RLD. Di rumah, orang tua menerapkan kontrak digital. Di sekolah, guru memberi tugas membuat poster internet sehat. Lalu di kampung, Karang Taruna membantu warga membuat kanal informasi kegiatan. Dalam pola ini, anak mendapatkan pesan yang konsisten: privasi itu penting, bahasa di internet harus sopan, dan teknologi bisa dipakai untuk hal bermanfaat. Anak juga melihat banyak figur dewasa yang kompak, sehingga mereka tidak merasa aturan itu “hanya kemauan ayah-ibu”.

Kota yang cerdas juga harus menyiapkan jalur respons jika terjadi masalah: perundungan digital, penipuan, atau konten berbahaya. Kolaborasi dapat mencakup pemetaan kontak darurat (guru BK, pengurus RW, kanal pelaporan), serta edukasi tentang bukti digital (screenshot, tautan, waktu kejadian) agar penanganan lebih cepat. Jika orang tua paham prosedur dasar, mereka tidak panik dan tidak memperburuk situasi dengan menyebarkan ulang konten bermasalah.

Pada akhirnya, keberhasilan Surabaya bukan diukur dari berapa banyak pelatihan digelar, melainkan dari perubahan kebiasaan: keluarga lebih sering berdialog, anak lebih cepat melapor ketika merasa tidak aman, dan kampung memiliki mekanisme klarifikasi informasi. Insight paling pentingnya: ketika literasi digital dijadikan budaya bersama, perlindungan anak tidak bergantung pada satu orang tua yang “paling paham”, melainkan pada jejaring yang saling menjaga.

Berita terbaru
Berita terbaru