Masyarakat Desa Ketapang Apresiasi Keseriusan Polisi Ungkap Rekayasa Proyek SMK

oleh -67 views

TEWENEWS, Muara Teweh – Penyelidikan kasus dugaan korupsi proyek pembangunan SMKN 1 Kandui di Kecamatan Gunung Timang, Kabupaten Barito Utata, di intensifkan.

Dalam hal itu, masyarakat Desa Ketapang, mengapresiasikan, keseriusan polisi Barito Utara yang gentol mengusut kasus dugaan korupsi proyek sekolah kejuruan dipedalaman tersebut.

“Masyarakat apresiasi terhadap keseriusan kepolisian ungkap unsur rekayasa proyek sekolah kejuruan di Gunung Timang,”ungkap tokoh masyarakat Ketapang, Saprudin S Tingan.

Saprudin tak menampik, kisruh proyek pembangunan SMKN-1 Kandui memang rumit. Karenanya, butuh kesabaran dan ketelitian, untuk mampu mengurai benang kusut kasus ini.

Benang kusutnya, mulai dari manipulasi data sekolah untuk memuluskan pencairan dana pusat. Hingga dugaan rekayasan dokumen pemindahan lokasi bangunan.

Baca Juga :   SMKN 1 di Sulap Menjadi SMKN 2 Gunung Timang Ada Apa?

Permasalahan kian runcing, setelah beberapa penggagas berdirinya SMKN-1 Ketapang, mengancam merobohkan bangunan sekolah bila masih menggunakan nama SMKN-1 Kandui.

Seperti diketahui, bangunan sekolah kejuruan di Kandui sebenarnya diperuntukan pusat untuk SMKN-1 Ketapang. Tapi setelah dana dikucurkan justru dibangun di Kandui, Ibukota Kecamatan Gunung Timang.

Karena itupula, belakangan SMKN-1 Kandui, tiba-tiba berubah nama menjadi SMKN-2 Kandui. Ironisnya, sudah tiga tahun ajaran, sekolah hasil rekayasan tinggat tinggi pejabat disdik ini, tak ada muridnya.

Berbanding terbalik dengan SMKN-1 Ketapang, berdiri atas kerja keras warga setempat, justru sudah tiga tahun ajaran meluluskan ratusan muridnya. Artinya, jelas sekali penegerian SMKN-2 Kandui, direkayasa.

Baca Juga :   Pemilik Lahan SMKN 1 Gunung Timang, Dua Tahun Menunggu Janji

Pertanyaannya, dasar pembentukan sekolah SMKN 2 Gunung Timang, apakah sudah sesuai dengan prosedur. Sebab hingga sekarang tak ada muridnya. Lalu apa dasar pembentukan komite, tanpa diwakili orang tua murid.

Permasalahnya, bangunan sekolah SMKN-1 Kandui yang bersumber dari dana hibah APBN sebesar Rp 2,9 miliar itu, sekarang sudah beralih menjadi SMKN 2 Kandui Artinya proyek ini diduga fiktip, dengan dugaan kerugian negara mencapai Rp.2,9 miliar.

“Ini bukan persoalan sepele, jangan ada kesan pembiaran karena persolan ini sudah bertahun-tahun lamanya. Masyarakat Desa Ketapang terus menuntut hak mereka untuk bangunan sekolah SMKN 1 di Ketapang,” tegas Saprudin, yang juga pemerhati pendidikan di Barut.

Baca Juga :   Kasus Tipikor SMKN 1 Gunung Timang Dihentikan, Temuan Audit Irjen Kemendikbud Tidak di Laksanakan ?

Sementara itu, sumber lain menyebutkan, kasus ini sudah dua tahun lalu ditangani kepolisian. Bahkan pihak terkait, seperti pejabat penggagas proyek bangunan, sudah dinintai keterangan. Bahkan polisi juga memeriksa pejabat kemendik.

“Pengusutan masih berlanjut. Kini tahap penyelidikan,” ungkap Kasatreskrim Polres Barut, AKP Syamsul Bahri, mewakili Kapolres Barut AKBP Dostan Matheus Siregar, via pesan WhatsApp, Jumat 29 Juni 2018 lalu.

Merujuk Pasal 1 angka 5 KUHAP, penyelidikan serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana. Guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini. (tim)