Melawan Bank BRI Cabang Buntok Dipersidangan Kuasa Hukum Debitur Sampaikan Alat Bukti

oleh -160 views

TEWENEWS, Tamiang Layang – Sidang perseteruan antara Debitur melawan oknum Bank BRI cabang Buntok, memasuki tahapan penyampaian alat bukti oleh penggugat, di Pengadilan Negeri Tamiang Layang kecamatan Dusun Timur kabupaten Barito Timur (Bartim) provinsi Kalimantan Tengah, Rabu (11/12/2019).

Debitur adalah pihak yang berhutang ke pihak lain, dalam hal ini Debitur adalah Dedy Irawan sebagai penggugat didampingi pengacaranya Wangivsy Eryanto, SH menggugat sita jaminan aset rumah dan tanah Djarau Mati Ati Kala sebagi Tergugat (T).I yang merupakan bagian kredit bank BRI Cabang Buntok, Pimpinan Cabang PT. Bank BRI kantor Cabang Buntok sebagai Tergugat T. II selaku Kreditur dan T. III adalah Ester Yulianti merupakan istri sah T. I.

Pada sidang yang digelar, penggugat menyerahkan bukti-bukti kepada Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tamiang Layang. Usai sidang Kuasa Hukum penggugat Wangivsy Eryanto, SH mengatakan “Bukti yang kita serahkan kepada Majelis Hakim tadi diantaranya P. 4, merupakan addendum perjanjian perpanjangan kredit”, ucap Wangivsy kepada wartawan di depan kantor Pengadilan.

Menutupi angsuran yang tidak disetor dengan memperpanjang perjanjian mundur, menutup kekurangan bunga agar setoran tdk dketahui Penggugat dan rekaman percakapan saat sidang mediasi atau gugtn setelah didaftar T. I menyampaikan sudah diangsur ke BRI.

Baca Juga :   Bhabinkamtibmas Kelurahan Petuk Katimpun Amankan Pelaksanaan Vaksinasi di Puskesmas Jekan Raya

Kita sudah curiga karena ini dibikin pada tanggal 28 juli 2018, faktanya pada tanggal 11 nopember karena saat itu ibunya sedang umroh, dibuatlah tanggal mundur diakhir tahun, Adendum Perjanjian dibuat mundur, agar utang klien saya yang sudah mau lunas setorannya yang dititip tidak disetor T. I tidak ketahuan.

Menurut Wangivsy, klien kita tidak mengelak, sesuai pengakuan kliennya, bahwa dia memang ada hutang, mungkin untuk menutupi angsurannya yang tidak diseror, tapi sudah dibayar. Jadi utang dan angsuran kredit yang tidak disetorkan itu berbeda.

Klien kita ini melakukan pinjaman kepada bank BRI Rp. 850 Juta dengan addendum, sudah dipotong 10 persen dengan isi perjanjian yang jelas, yang menjadi masalah angsuran klient kita ini diambil kerumah oleh T. I yang menangani bidang pinjaman kredit dengan nilai Rp 50, 100, 150 dan 200 Juta, dengan total setoran sebesar Rp 700 Juta, ternyata setoran tersebut tidak tercatat dipembukuan pembayaran.

Pada bukti yang kita serahkan ke Majelis Hakim tadi P. 5. sampai P. 9 ini penting, disitu adalah tulisan dan tanda tangan tangan T. I dan uangnya diambil dari rumah klien kita setangan, kerugiannya Rp. 700 Juta, lewat rekaman percakapan telepon berulang-ulang kali T. I mengatakan uang tersebut sudah disetorkan ke kasir tapi lupa kasir yang mana.

Baca Juga :   Bank Kalteng Cabang Tamiang Layang Serahkan Hewan Kurban Tiga Ekor Sapi

Pada alat bukti ini membuktikan perbuatan negatif T. I dan kesalahan T. I yang merupakan perbuatan melawan hukum, karena tidak menyetorkan angsuran penggugat, sehingga menimbulkan kerugian bagi penggugat, maka T. I dan T. II bertentangan dengan kewajiban hukum, hak subjektif penggugat, namun dalam jawaban T. I berdalil ini utang piutang, bukan uang setoran.

Setelah masalah timbul, T I kaget dan bingung, karena T. I mutlak disahkan dalam kasus ini, karena bunga pinjaman tidak turun. Kerugian pasti klien kita selain Rp. 700 Juta, setelah dia membayar beberapa kali dan akhirnya di awal tahun 2019 bunga Rp. 2,3 Juta, tapi di bulan februari dan di bulan maret itu naik jadi 10 juta bunganya.

Baca Juga :   POSPOL POLSEK SERUYAN HULU SOSIALISASI STOP LARANGAN MEMBAKAR HUTAN DAN LAHAN

Klien kita bayar bunga tidak seperti didalam Debet tiap bulannya, jadi adanya menutupi kekurangan bunga, tujuannya supaya klien saya tidak tahu setoran selama ini tidak disetorkannya.

Jadi setoran yang tidak ada validasinya dan rekening koran yang tidak ada setoran masuk vide berdasar bukti P.5 sampai P.9 terima setoran dan menuliskan sisa pinjaman Penggugat, kerugian materiil sesuai dengan gugatan. Kerugian Material klien kita senilai Rp 2,4 Milyar, karena kita berpatokan sesuai dengan KUHP perkara perdata itu sebesar 6 persen sesuai perjanjiannya. Sebelumnya dilakukan tiga kali mediasi oleh pihak Pengadilan, baru pada saat Duplik mereka hadir, papar Wangivsy.

Sementara itu kuasa hukum para Tergugat Deni Deprado, SH saat diwawancara menjelaskan “Salinan bukti-bukti dari Penggugat sudah kami terima, tentunya bukti tersebut akan kami pelajari terlebih dahulu”, jelas Deni.

“Kami akan berkoordinasi dulu dengan klien kami, untuk mempelajari alat bukti dan melakukan pendalaman untuk bahan sidang selanjutnya,”pungkasnya. (Ahmad)