Menilik Nasib Gunung Lumut dan Eksplorasi Tambang

oleh -482 views

TEWENEWS, Muara Teweh – Menjelajah kawasan Hutan Lindung Lampeong-Gunung Lumut di Kabupaten Barito Utara yang masih alami ini memang menjanjikan sensasi tersendiri. Di kawasan hutan lindung tersebut terdapat barisan pegunungan yang alami di antaranya Gunung Tangur dengan bukit batu kapur sebagai tempat berkembangnya 83 sarang lebah madu, juga Bukit Sowai, yang memiliki keindahan Sungai Semeluang dan danau atau lubuk di atasnya, yaitu Lubuk Lemuong Pantak.

Sesuai dengan namanya, Gunung Lumut merupakan surga lumut dunia. Hampir semua kawasan, baik pepohonan maupun daratan, tertutup dengan berbagai jenis lumut. Gunung ini memiliki tujuh puncak dan menjadi ekologi yang penting di Kalimantan Tengah, dengan puncak tertinggi 1.269 km dpl.

Hutan lindung Lampeong-Gunung Lumut memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dengan flora dan fauna endemis Kalimantan, serta memiliki keunikan ekosistem. Flora didominasi famili depterocarpaceae (dipterocarpus sp dan shorea sp), tumbuhan bawah rhododendron sp, nephenthes sp dan phyllocladus sp, eurycoma langifolia dan Ixora sp, juga ditemukan sekitar 51 jenis anggrek.

Sedangkan untuk fauna, terdapat 75 spesies burung, antara lain rangkong badak (buceros rhinoceros), sikatan Kalimantan (cyiomis superbus), dan puyung gonggong (aborophila hyperytha). Hutan ini juga menjadi rumah bagi 15 mamalia, seperti babi jenggot (sus barbatus), owa (hylobates mulleri), dan macan dahan (neofelis nebulosa). Sementara itu, terdapat 44 jenis ikan penghuni danau antara lain sapan (tor tambroides), lomi (tordouronensis), salap (barbode scollingwoodii), dan tapah (wallago leeri). Kawasan Hutan Lindung Lampeong-Gunung Lumut juga dikenal sebagai penyangga sistem hidrologi bagi 27 desa di bagian hilir di tepian Daerah Aliran Sungai (DAS) Teweh, 16 desa di tepian DAS Montallat, dan puluhan desa di tepian DAS Ayoh Kabupaten Barito Selatan.

Damang Kecamatan Gunung Purei, Sahayuni mengatakan, kawasan Gunung Lumut memiliki nilai sejarah dan kearifan lokal sebagai hutan yang sakral bagi umat Hindu Kaharingan, yakni sebagai tempat para roh bersemayam.

“Masyarakat di sekitar kawasan Gunung Lumut percaya bahwa gunung tersebut merupakan tempat bersemayamnya roh-roh leluhur dan mereka yang telah meninggal dunia, Di lokasi ini juga sering diadakan kegiatan Ritual Gomek yang dibawakan Juru Ritual Wara dalam rangkaian mengantarkan arwah yang sudah meninggal dunia”, pungkas Sahayuni. Perjalanan menuju Hutan Lindung-Gunung Lumut memakan waktu sekitar 8 jam, dengan jalur darat dan sungai.

Baca Juga :   Polsek Gunung Purei Ajak Warga Desa Lampeong 2 Lawan Hoax

Pemerintah Kabupaten Barito Utara sangat konsisten dalam memperjuangkan perubahan status kawasan Hutan Lindung Lampeong-Gunung Lumut agar bisa menjadi Taman Nasional Cagar Biosfer. Harapannya. perlindungan dan pelestarian dalam rangka keberlangsungan lingkungan terhadap ABC (Abiotic Biotic Culture), yaitu flora, fauna, dan budaya sakral (kearifan lokal), da pat dioptimalkan.

Beberapa tahun lalu, di Lampeong Kecamatan Gunung Purei para Damang Kepala adat melaksanakan deklarasi sebagai bentuk dukungan dan kepedulian terhadap pelestarian hutan adat Gunung Lumut.

Adapun isi deklarasi tersebut adalah :
1) Para Damang Kepala Adat se-Kabupaten Barito Utara mendukung penuh upaya perlindungan dan pelestarian Kawasan Hutan Lindung Lampeong-Gunung Lumut sebagai Hutan Sakral, Situs Budaya Kepercayaan Kaharingan, serta Hutan Penyangga Lingkungan Hidup Strategis;

2). Para Damang Kepala Adat se-Kabupaten Barito Utara meminta kepada Gubernur Kalimantan Tengah agar segera menandatangani surat usulan kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik lndonesia atas usulan Perubahan Fungsi Hutan Lindung Lampeong-Gunung Lumut menjadi Taman Nasional, sesuai mandat Peraturan Pemerintah No. 104 Tahun 2015 berdasarkan permohonan Bupati Barito Utara, Nomor. 000/L039.a/BLH/Xl/ZAt6, Tanggal 28 November 2016.

Sebelumnya, Pada 7 November 2013 Pemerintah Daerah Barito Utara telah menyerahkan dokumen Usulan Perubahan Kawasan Hutan Lindung Lampeong-Gunung Lumut menjadi Taman Nasional ke Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Kawasan Alam, Kementerian Kehutanan. Peningkatan status kawasan Gunung Lumut sebagai Taman Nasional ini dengan pola pengelolaan Cagar Biosfer agar memiliki payung hukum yang lebih kuat.

Penyerahan dokumen ini dirampungkan setelah Pemkab mendapat surat rekomendasi Gubernur Kalimantan Tengah pada tanggal 24 Juli 2013 Nomor: 522/1264/Dishut. Surat Pertimbangan Teknis Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Barito Utara tanggal 24 Agustus 2009 Nomor 47/DISHUTBUN/IV/I/2009, Rekomendasi DPRD Kabupaten Barito Utara Nomor DPRD.B.15/10/2010 tanggal 12 April 2010, serta Usulan Bupati Barito Utara dengan Surat tanggal 21 Agustus 2010 Nomor 671.A.990/2010 mengusulkan peningkatan status kawasan Hutan Lindung Lampeong-Gunung Lumut menjadi Taman Nasional juga sudah lama dikeluarkan.

Baca Juga :   Bentuk Keperdulian Bencana, Ormas di Barut Galang Dana

Gubernur Kalimantan Tengah telah mengeluarkan rekomenasi pada tanggal 24 Juli 2013 Nomor 522/1264/Dishut atas dasar Pertimbangan Teknis Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan Tengah dan surat tanggal 26 Maret 2013 Nomor 522.1.100/484/Dishut pun sudah dikantongi sebagai syarat pengajuan kawasan hutan tersebut menjadi taman nasional.

Kemudian pada tanggal 10 Juni 2016, Pemkab Barito Utara telah melakukan audensi dengan Kementerian LHK yang diterima oleh Direktur Pengukuhan dan Penataan Kawasan Hutan. Luas usulan Taman Nasional Gunung Lumut seluas ± 24.423 ha. Dan saat ini kita tinggal menunggu surat rekomendasi dari Gubernur Kalimantan Tengah. Jika surat rekomendasi tersebut keluar, maka tinggal menunggu penilaian dari tim terpadu ke Gunung Lumut.

Masyarakat di Desa Muara Mea dan Berong yang berada dekat kawasan HL Lampeong-Gunung Lumut sebagian besar masih menganut kepercayaan Kaharingan. Mereka masih memegang teguh budaya leluhur di dalam kehidupannya. Mereka mempercayai bahwa kawasan Gunung Lumut memiliki nilai sejarah dan tempat persemayaman serta pembersihan arwah orang yang meninggal, termasuk roh-roh leluhur mereka, sebelum menuju ke langit atau surga.

Posisi geografis HL Lampeong-Gunung Lumut yang berada di pegunungan menjadikannya penting secara ekologis karena merupakan pengatur tata air (water regime) bagi beberapa sungai penting yang ada di tiga provinsi yakni KalimantanTengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Selain itu, kondisi alamnya yang masih terjaga membuat daerah ini menjadi menara air dan menyuplai air bersih serta oksigen bagi masyarakat sekitar.

Kekhawatiran muncul sejak beberapa tahun silam saat perusahaan tambang mulai melakukan eksplorasi dalam kawasan dan aktivitas perusahaan sawit semakin mendekati hutan lindung yang berada di Kecamatan Gunung Purei/Gunung Timang, Kabupaten Barito Utara tersebut.

Baca Juga :   Dharma Wanita Persatuan Kamenag Barut Serahkan Bantuan Kepada Pasien Isoman

Masyarakat Desa lantas sadar jika status hutan lindung ternyata tidak cukup mampu menghalau para pemilik modal dan pemegang kekuasaan. Karena itu, sejak 2005 inisiatif pengusulan perubahan kawasan HL Lampeong-Gunung Lumut oleh masyarakat yang didukung Pemerintah Kabupaten Barito Utara menjadi kawasan taman nasional cagar biosfer berjalan.

Program Manager WWF Indonesia Kalimantan Tengah Rosenda Chandra Kasih, yang akrab dipanggil Sendy, menjelaskan bahwa keterlibatan WWF dalam pengusulan kawasan lindung menjadi taman nasional berdasarkan keinginan masyarakat untuk melindungi kawasan yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi ini sejalan dengan program inisiatif Heart of Borneo (HoB) atau juga Kawasan Jantung Borneo.

“Dari hasil pemetaan daerah konservasi tinggi, WWF melihat Kalteng dapat menjadi window display conservation. Karena itu pengusulan HL Lampeong-Gunung Lumut menjadi taman nasional terus kami kawal,” katanya.

Ada beberapa manfaat ekonomi bagi masyarakat akibat perlindungan kawasan ini. HL Lampeong-Gunung Lumut memiliki sumber ikan air tawar arus deras dan ada indikasi kandungan karts di dalamnya. Sendy menjelaskan, hal tersebut berdasarkan kajian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang melakukan ekspedisi pada 2003-2004, ditemukan adanya indikasi kawasan karts sebagai penampung air dan ada sedikitnya 42 jenis ikan air tawar berada di daerah tersebut.

“Di kawasan Gunung Lumut terdapat ikan endemik yang patut dilindung seperti ikan Lummi dan ikan Sapan yang sudah langka dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Saat ini, jika kita sekali menebar jala di Sungai Luang di kaki Gunung Lumut akan menjaring ikan tidak kurang dari 3 kg. Selain itu kawasan karts penting sebagai penampung air,” terang Sendy.

Selain itu, masih banyak keanekaragaman hayati yang ada di kawasan tersebut. Contohnya masih bisa ditemui adanya owa dan 5 jenis burung Rangkong serta ada beberapa satwa langka seperti rusa, banteng, macan dahan, dan kucing hutan diyakini masih ada di kawasan HL Lampeong-Gunung Lumut. Di kawasan ini pula, ujar Sendy, merupakan tempat beberapa jenis tumbuh-tumbuhan obat (etnobotani) masyarakat lokal. (Taufik/tim)