Pemuda Paelan Tolak Pamflet Festival Garam

oleh -157 views

TEWENEWS, Sumenep – Beredarnya pamflet “Festival Garam” di dunia maya, ternyata memantik reaksi. Pemuda Paelan menyatakan keberatan atas pelaksanaan festival yang bertepatan dengan upacara nyadhar kedua.

Moh. Junaidi, koordinator Pemuda Paelan menyatakan, bahwa pamflet festival garam sudah mengarah pada praktik eksploitasi kebudayaan.
“Pamflet itu seperti selebaran bodong. Mereka hanya ingin memancing di air keruh. Harga garam yang anjlok, ternyata memberi inisiatif beberapa orang untuk asal ngadain acara,” ujar Jun, Kamis 8 Agustus 2019.

Alumni Universitas Tribuana Tunggadewi Malang ini menambahkan, pamflet yang beredar itu tidak mencantumkan pihak penyelenggara dan penanggung jawab. Menurutnya, pamflet hanya sekadar kreasi mau main-main.

“Kalau tujuannya untuk mengkritisi kebijakan impor garam, atau ingin meningkatkan harga tawar garam lokal, itu baik. Tapi kalau menjadikan prosesi adat sebagai propaganda politik, itu ngawur. Tidak tahu tata adat dalam menghargai kebudayaan suatu masyarakat,” jelas Jun.

Baca Juga :   Peduli Warga Binaan, Koramil 1016-05/Rungan Berikan Paket Sembako

Jun menambahkan, selain tidak adanya pihak penanggung jawab, konsep acara festival garam juga tidak jelas. Pamflet itu, tegas Jun, hanya menginformasikan tajuk acara, tempat dan waktu.

“Sementara bentuk acaranya seperti apa, kita belum tahu. Apa tabur garam atau pameran foto-foto tentang garam? Tidak ada. Tapi kalau festival garam itu diarahkan ke upacara adat nyadhar yang pelaksanaannya tanggal 16-17 Agustus ini, berarti pembuat pamflet itu begitu lancang terhadap leluhur dan pini sepuh kami.”

Baca Juga :   Peduli Sesama, Bhayangkari Ranting Polsek Kembangan Bagi Makanan kepada Personil Pos Pam Ketupat

Sementara Set Wahedi, selaku budayawan asal Pinggir Papas, mengingatkan untuk lebih berhati-hati dalam melihat dan memberlakukan suatu kebudayaan. “Kita itu kadang kurang respek dengan kebudayaan orang lain. Saya tidak tahu, pamflet itu maunya apa. Tapi dari tanggal pelaksanaan memang barengan pelaksanaan upacara nyadhar. Kalau festival garam diarahkan ke upacara nyadhar, yaa itu ceroboh,” ujar Set melalui sambungan telepon.

Set berharap pamflet festival garam itu tidak ada kaitannya dengan upacara nyadhar. Menurutnya, nyadhar itu bukan sekadar upacara adat semata. Akan tetapi juga merupakan bentuk spritual masyarakat Pinggir Papas dalam menyatakan rasa syukurnya.

Baca Juga :   Destinasi Wisata Digital Sar Kampong, di Sumenep Madura Jawa Timur

“Upacara nyadhar itu unik. Dia mamadukan khazanah lokal dan nilai-nilai keagamaan yang menciptakan tatanan harmoni masyarakat Pinggir Papas. Karena itu, kita perlu berhati-hati membicarakan adat satu masyarakat. Jangan sampai niat baik kita malah menyinggung perasaan pemangku adat,” urai Set.

Set juga bercerita, dirinya bersama teman-teman muda Pinggir Papas sejak tujuh tahun lalu menggerakkan #gerakanbersarung ke upacara nyadhar. Gerakan bersarung itu dimaksudkannya untuk menyadarkan kaum muda Pinggir Papas dalam menghargai dan melestarikan nilai-nilai luhur nenek moyang dan pini sepuh.

“Gerakan bersarung itu yaa ajakan pada kaum muda Pinggir Papas untuk berpakaian sopan. Bertingkah laku sopan saban kali menghadiri acara adat desa,” tandasnya.(Anang F)