Penertipan Judi di Kabupaten Belu dan Malaka  Dinilai Masih Setengah Hati

oleh -103 views
Foto : Bukti Kupon Yang Tetap Beredar Pada Tanggal 9 dan 10 Desember 2018

TEWENEWS, Atambua – Meskipun Kapolres Belu telah memerintahkan jajarannya untuk menertipkan judi bola guling (BG) dan judi kupon putih (Kupu) di wilayah hukum Kabupaten Belu dan Malaka, dinilai oleh sebagian kalangan masih belum membuat sefek jera para bandar, buktinya kedua jenis perjudian itu masih saja marak.

Padahal, Minggu (25/11) pukul 14.00WITA,  Anggota Polres Belu, menggerebek kegiatan permainan judi sabung ayam dan bola guling di hutan Dusun Nularan, Desa Weulun, Kecamatan Wewiku, Kabupaten Malaka, Timor Barat wilayah perbatasan RI-Timor Leste.

Operasi itu dipimpin langsung oleh Kapolsek Malaka Tengah AKP Alnofriwan Saputra selaku Ketua Tim. Dalam kegiatan penggerebekan perjudian KBO Intelkam Polres Belu Ipda Niko Nusa, Baur Paminal Polres Belu, Kanit Provos Malaka Tengah serta Anggota Propam Polres Belu.

Sebagian masyarakat berpendapat, operasi penertiban yang dilakukan oleh Polres Belu itu dinilai masih tebang pilih. Penilaian ini disampaikan salah satu aktivis sosial, Mariunus Bere di Atambua, Rabu (19/12/2018).

Dia mengatakan, bandar kupon putih yang berada di Kecamatan kobalima dan Malaka Tengah masih bebas melakukan aksinya, sedangkan lokasi rumah milik kedua bandar sangat dekat dengan Polsek Malaka Tengah dan Kobalima.

“Judi khususnya bola guling masih sering dijumpai di tempat-tempat tertentu ketika ada orang meninggal dunia pesta nikah,bahkan pada setiap hari pasar desa dan kecamatan masih saja marak. Namun yang membuatnya memberikan penilaian miring kepada kepolisian adalah, adanya operasi penertiban yang terkesan tebang pilih,”ujar Marianus.

Ditandaskan Marianus, kenpa pihak kepolisian hanya mengamankan bola guling (BG) bola guling, sedangkan bandar kakap Kupon Putih alias (Togel) di ketahui di wilayah bernama Bos lius K, dan Bos Bambang, Lokasinya rumahnya di pusat kota malaka, di biarkan bebas, seakan dimanja oleh oknum polosi, hal ini sangat mengecewakan.

Hal senada di sampaikan Gabriel Berek, ia mengatakan polisi harus melakukan penertiban tanpa pandang bulu agar tidak menimbulkan kesan negatif di masyarakat. “Kita mendukung upaya penertiban oleh polisi, tapi harus merata dan menyeluruh. Inikan kesannya jadi tidak baik. Masa judi di kampung dibubarkan dan semua disita, sementara judi kupon putih yang membuat para bandar kaya raya di kota atau dekat kota seperti Atambua dan Betun di manjakan saja,”ungkapnya.

Dia menyebutkan, para pemilik meja bola guling disinyalir ada menyetor sejumlah uang kepada oknum dengan sebutan uang kordi (koordinasi, Red) sehingga judi tidak dibubarkan. Kalau di Atambua biasanya ada uang kordi. Satu meja bisa Rp 1 juta lebih satu malam. Jadi kalau mau aman harus bayar, sama halnya seperti judi kupon putih, omset perhari hingga ratusan juta.

“Setiap kali ada orang meninggal dunia ada judi bola guling maka harus ada uang koordinasi, jika tidak maka akan dibubarkan dan meja bola guling serta uang disita. Yang mengherankan, saat operasi itu para pelaku tidak ditangkap. Polisi hanya sita meja BG dan uang,” ungkapnya.

Kapolres Belu, AKBP Christian Tobing, hingga berita ini diterbitkan masih belum bisa di konfirmasi oleh wartawan tewenews.com. (Beres)