Peran Generasi Milenial Dalam Ruang Politik

oleh -29 views

TEWENEWS, Artikel – Di tahun 2020 mendatang akan menjadi momentum politik yang membutuhkan peran generasi milenial yang cakap, media, tanggap, kreatif, dan advokatif. Langkah-langkah strategis generasi milenial dalam mengisi pesta demokrasi dapat dilakukan dengan beragam cara, diantaranya mendorong gerakan antigolput atau kampanye hashtag positif demi pilkada berkualitas.

Siapakah generasi milenial dimaksut, apakah semua kita mengerti sebutan itu, dewasa ini menjadi topik cukup hangat diberbagai kalangan, mulai dari segi pendidikan, teknologi, politik, maupun moral dan budayanya. Generasi milenial kadang disebut dengan generasi Y, sekelompok orang yang lahir setelah generasi X, yaitu orang yang lahir pada kisaran tahun 1980 sampai 2000.

Artinya generasi milenial adalah generasi muda yang berumur 17 sampai 37 tahun pada saat ini. Generasi milenial dianggap special karena memiliki perbedaan yang cukup tajam dengan generasi sebelumnya, apalagi dalam hal teknologi.

Generasi milenial memiliki ciri khas tersendiri, mereka lahir pada saat TV sudah berwarna, handphone semakin canggih, serta fasilitas internet yang sudah massif diperkenalkan, sehingga tidak heran jika generasi milenial ini sangat mahir dalam teknologi.

Posisi generasi milenial sangat diperhitungkan pada pilkada di berbagai daerah. Generasi melineal adalah bagian dari penentu kemajuan dan keberhasilan demokrasi, baik di tingkat daerah maupun nasional. Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah pemilih milenial mencapai 70 sampai 80 juta jiwa dari 193 juta pemilih. Artinya, sekitar 35 sampai 40 persen memiliki pengaruh besar terhadap hasil pemilu dan menentukan siapa pemimpin pada masa mendatang.

Baca Juga :   Ikuti Kegiatan Car Free Day, Dandim Menilai Kota Majenang Akan Lebih Maju Dari Wilayah Lain

Salah satu hal penting yang kerap terjadi pada pelaksanaan Pilkada adalah soal perebutan kekuasaan yang bisa melahirkan persaudaraan atau bahkan bisa menimbulkan permusuhan keduanya mudah sekali terjadi.

Dalam demokrasi, ada yang namanya kawan dan lawan politik dan ini juga berlaku untuk para pendukung setiap calon. Sekalipun, dalam politik tidak ada baik kawan maupun musuh abadi, semua hal tadi bisa terjadi, tergantung permainan waktu dan kepentingan. Banyak politisi yang semula lawan menjadi kawan politik begitu juga sebaliknya.

Dalam hal ini, partisipasi politik generasi milenial tentu sangat substansial karena dari persentase jumlah pemilih, generasi milenial menyumbang suara cukup banyak dalam keberlangsungan Pilkada 2020 ini.

Kepentingan elit politik yang secara langsung terlibat dalam penyelenggaraan aktivitas politik, lebih mementingkan kepentingan golongan dan terkesan menghambat keterlibatan pemuda atau mileneal dengan ideologi yang dibawa.

Realita tersebut cukup menghambat bagi kaum pemuda untuk menembus tirani yang telah terbangun oleh kepentingan oknum elit politik yang telah lebih dahulu menguasai aktivitas politik secara menyeluruh. Butuh yang baru, butuh yang muda, butuh yang mengerti semua kalangan.

Baca Juga :   Antisipasi Bencana, Pemkab Kampar Gelar Apel Kesiapsiagaan Bencana Nasional Tahun 2021

Dengan peran generasi milenial sebagai pemilih yang memiliki sumbangsih terhadap suara hasil pemilihan yang cukup besar, maka posisi generasi milenial menjadi sangat strategis.

Kelompok generasi millennial Indonesia akan menentukan arah pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2019 karena ukuran populasi mereka yang signifikan, 34  sampai 50 persen.

Mereka juga tidak memiliki sikap apolitis. Kandidat yang mampu memikirkan, menyerap, dan mengakomodasi aspirasi mereka akan memiliki cukup keuntungan untuk menang.

Indonesia telah mengambil langkah pertama menuju pemilihan presiden 2019 dengan mengumumkan pasangan calon presiden dan wakil presiden pada tanggal 10 Agustus 2018. Pilpres 2019 menjadi kesempatan kedua bertemunya Joko “Jokowi” Widodo dan Prabowo Subianto.

Perspektif para milenial Indonesia adalah, apakah merangkul politik bermanfaat untuk kebutuhan mendesak serta kreativitas dan imajinasi inovatif mereka. Idealisme dalam politik, yang berarti komitmen penuh terhadap ideologi politik mulai dari haluan kiri, Islami, atau liberal, bukanlah perspektif umum di kalangan politik milenial. Kelompok milenial mempertimbangkan politik berdasarkan dampak nyata dan langsung bagi mereka.

Hasil survei The Pew Research Center mendapati, kelompok milenial Afrika-Amerika lebih religius daripada rekan-rekan mereka. Survei ini menarik karena mencerminkan kecenderungan umum generasi milenial Indonesia.

Baca Juga :   PJID Riau Bentuk Panitia Rakeda 

Muslim milenial Indonesia melestarikan dan memiliki komitmen yang mendalam terhadap doktrin Islam mereka. Namun, dalam mempelajari agama, mereka memperoleh materi dari sumber-sumber online, alih-alih dari lembaga-lembaga otoritatif dan para ahli yang memiliki pengetahuan dalam studi agama.

Terdapat kecenderungan bagi mereka untuk tertarik pada kelompok konservatif Islam. Banyak kongregasi Islam yang baru didirikan memiliki basis keanggotaan yang didominasi oleh generasi milenial.

Sebagian asumsi bahwa kelompok milenial tidak akan menggunakan hak mereka untuk memilih dalam pemilihan Presiden 2019 karena sikap apolitis mereka. Asumsi ini tidak dapat digunakan sebagai alasan untuk mengabaikan signifikansi mereka.

Hal ini akan menjadi kerugian besar bagi Indonesia jika kedua kandidat presiden Jokowi dan Prabowo mengabaikan pengaruh milenial dalam pemilihan presiden 2019.

Bagaimana demokrasi dapat dipertahankan dalam situasi ketika sejumlah besar warga negara Indonesia apolitis? Bagaimana kedua kandidat presiden membentuk strategi kampanye mereka untuk menjangkau kelompok milenial untuk pemilihan legislatif dan presiden? Partisipasi milenial dalam pemilu mendatang, dalam pemilihan legislatif maupun presiden, sangatlah diperlukan untuk mempertahankan demokrasi. (Penulis : Putri Zorayya Prianti Noor)