Pondok dan Lahan Dius Tengelam, PT. TRUST SITE dan PT. BEK Cuma Hargai Rp 5 Juta

oleh -228 views

TEWENEWS, Muara Teweh – Konflik antara warga dengan perusahaan tambang batu bara sering terjadi diberbagai daerah di Indonesia. Terbaru permasalahan pondok dan lahan Dius yang tenggelam akibat aktivitas pertambangan PT. Trust site, PT. BEK.

Permasalahan ini sudah dimediasi di Polsek Teweh Timur, Jajaran Polres Barito Utara, Polda Kalimantan Tengah, yang dihadiri oleh perwakilan PT.BEK (Suriadi) dan perwakilan PT. Trust (Debora) pada hari Senin, 18 Oktober 2021.

Juru Bicara sdr. Dius, Moses, melalui Pres Rilisnya yang dikirimkan ke redaksi tewenews.com menyampaikan Hasil mediasi konflik Pondok dan lahan Dius yang  tengelam akbat aktivitas  pertambangan PT. TRUST SITE, PT. BEK, pada hari Senin, 18 Ootobe 2021, di aula Polsek Teweh Timur.

Dalam Rilisnya juru bicara Dius menyampaikan ” PONDOK DAN LAHAN SDR. DIUS YANG TENGGELAM AKIBAT AKTIVITAS PERTAMBANGAN PT. TRUST SITE PT. BEK DI HARGAI RP. 5 JUTA. DITOLAK MENTAH-MENTAH OLEH SDR. DIUS”.

Point-Point Statement dari PT.BEK/PT.TRUST:
1. Pondok dan Lahan yang terendam berada diluar IPPKH.
2. Adanya tumpang tindih mengenai kepemilikan lahan tersebut, perlu verifikasi secara
menyeluruh.
3. Genangan yang terjadi bukan akibat aktivitas pertambangan PT. Trust site PT.BEK tetapi karena
faktor alam.
4. PT. Trust sudah bekerja sesuai dengan prosedur yang benar.
5. PT. BEK bersedia memberikan kebijakan Rp. 5 Juta sebagai bentuk kepedulian.

Baca Juga :   Ops Yustisi, Polsek Teweh Timur Pasang Sticker "Ayo Pakai Masker" dan Sampaikan Imbauan Prokes

Argumen dari sdr. Dius melalui jurubicaranya sdr. Moses.
1. Pengakuan bahwa lahan tersebut berada di luar IPPKH justru menunjukan kesalahan terbesar
dari PT.BEK. Dalam hal ini Perusahaan (PT.BEK) seharusnya bisa memanagement pekerjaan
dengan baik didalam IPPKH. Justru disini yang terjadi malah sebaliknya, pekerjaan didalam IPPKH
tetapi menimbulkan masalah diluar IPPKH. Dalam hal ini aktivitas penambangan didalam IPPKH
menyebabkan genangan air yang menenggelamkan pondok dan lahan lainnya yang diluar IPPKH.
Bukankan ini suatu pelanggaran berat? Pasti ada prosedur yang dilanggar oleh pihak
perusahaan.

2. Berkaitan dengan tuduhan lahan tersebut adanya tumpang tindih kepemilikan seperti adanya
klaim dari sdr. Atung (alm), sdr. Yatni, dan bebarapa orang lagi.

Jawaban kami adalah faktanya sampai sekarang ini belum ada dari satupun orang-orang yang disebutkan itu yang
menyampaikan nota keberatan atas tenggelamnya pondok dan lahan tersebut. Hanya satusatunya orang yang keberatan adalah sdr. Dius karena beliaulah pemilik yang sesungguhnya.

Baca Juga :   Tiga Kali Ditangkap Polisi, Kahai Tak Jera Masuk Penjara

Dalam hal ini juga Sdr. Neri (Istria alm. Pak Atung) didepan Kapolsek Teweh Timur dengan tegas
menyatakan bahwa lahan tersebut bukan miliknya tetapi benar-benar milik sdr. Dius.

Perlu kami sampaikan disini juga bahwa lahan milik sdr. Dius ini adalah lahan yang belum pernah
dibebaskan sama sekali. Sedangkan orang-orang yang katanya mengklaim lahan tersebut adalah
orang-orang yang lahannya sudah dibebaskan pada tahun 2005 dan 2016. Logikanya dimana?
Karena pondok yang tenggelam itu berdiri diatas lahan yang belum dibebaskan sama sekali.

3. Genangan air yang terjadi akibat faktor alam adalah tuduhan yang tidak berdasar, faktanya
sebelumnya selama puluhan tahun tidak pernah terjadi kejadian seperti itu. Genangan itu terjadi
setelah adanya aktivitas pertambangan di wilayah tersebut. Dalam diskusi yang berkembang
pihak perusahaan tidak menampikan kemungkinan itu ada, tetapi harus diverifikasi oleh
lembaga yang berwenang.

4. PT. Trust sudah bekerja dengan prosedur yang benar. Faktanya justru terjadi genangan air
setelah adanya aktivitas pertambangan oleh PT. Trust. Ini membuktikan kalau PT. Trust telah
melakukan kesalahan procedural.

Baca Juga :   Satresnarkoba Polres Barut Ringkus Ali Maskur beserta 3 Paket Shabu

5. PT. BEK membuat kebijakan dengan memberikan kepedulian sebesar Rp. 5 Juta. Langsung
ditolak mentah-mentah oleh sdr. Dius dengan alasan bahwa kerusakan akibat genangan air
tersebut akibat dari kesalahan prosedur dan kelalaian perusahaan. Akibat dari kelalaian tersebut
perusahaan seharusnya bertanggungjawab, namun dalam hal ini perusahaan malah
menawarkan uang kepedulian sebesar Rp. 5 Juta.

Setelah ditolak, ironisnya disisi lain Pihak Perusahaan meminta sdr. Dius menyebutkan angka. Dengan tegas sdr. Dius tetap menolak untuk menyebutkan angka, karena dianggap ini sebagai trik kotor yang nantinya kalau sdr. Dius
menyebutkan angka, maka akan digiring kepada tindakan pidana pemerasan.

Buktinya ketika pertanyaan dibalik kepada pihak perusahaan, berapa limit teratas yang bisa mereka kasih,
perusahaanpun tidak bisa menjawabnya dengan menyebutkan angka. Sehingga Sdr. Dius pun
tidak bersedia menyebutkan nilai, tetapi meminta tanggungjawab supaya semua kerusakan yang
terjadi dikembalikan seperti semula.(Tim)