Populasi Monyet Bekantan Menurun Akibat Perburuan Liar dan Alih Fungsi Hutan

153

TEWENEWS,Banjarmasin – Perburuan liar,Alih fungsi lahan, dan kebakaran hutan menjadi salah satu penyebab menurunnya populasi Primata Endemik Borneo,Pulau yang terkenal dengan kekayaan alamnya, baik itu flora maupun fauna. Salah satu hewan yang sangat terkena dan kerap kali dijadikan sebagai maskot kebanggaan ialah hewan monyet bekantan (Nasalis Larvatus) atau kera bekantan.

Ditambah lagi, tidak banyak orang yang mengetahui primata ini sudah mulai langka dan menjadi salah satu hewan yang dilindungi. Bahkan masyarakat Kalsel disinyalir hanya mengetahui Bekantan sebagai maskot kota saja.

“Pada Maret 2016 lalu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah menetapkan Bekantan sebagai bagian dari 25 hewan yang harus ditingkatkan populasinya,” ungkap Kepala BKSDA Kalsel Dr Ir Mahruz Aryadi saat talk show di Hari Bekantan 2018, di Aula Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Selasa (3/4/2018).

“Bahkan, International Union for the Conservation of Nature (IUCN) menempatkan Bekantan sebagai spesies langka,” tambah Aryadi.

Untuk mengatasi itu, lanjut Aryadi, BKSDA telah melakukan beberapa terobosan, salah satunya adalah mepersiapkan taman wisata alam Pulau Bakut sebagai suaka Bekantan. Ia mengatakan, di sana nantinya akan ada tempat perawatan, pengecekan kesehatan, dan ekowisata.

“Nanti juga akan kita undang sekolah-sekolah untuk melihat langsung, kehidupan Bekantan secara alami serta bagaimana cara merawat Bekantan agar populasinya tetap terjaga,” ungkapnya.

Kedepan, tambahnya, pihaknya juga telah mempersiapkan Pulau Sewangi di daerah Tanah Bumbu yang juga akan digunakan sebagai suaka Bekantan. “Di situ nanti kita menargetkan banyak wisatawan yang datang, karena berada di daerah laut dalam yang dapat memudahkan kapal-kapal asing untuk singgah,” ungkapnya.

Dari data BKSDA tahun 2017, populasi Bekantan di Kalsel ada sekitar 2.224 ekor, jumlah itu meningkat 10 persen dari tahun 2016. “Penyebaran yang paling besar berada di daerah Kotabaru, Batola, Tanah Bumbu dan Pelaihari. Sedangkan khusus untuk daerah konservasi populasinya mencapai 887 ekor di seluruh Kalsel,” ungkapnya.(ED)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here