Ritual Wara Diduga Sering di Salah Gunakan, Pemuda Hindu Kaharingan Sambanggi Polres Barut

TEWENEWS, Muara Teweh –  Pertemuan membahas masalah penyalahgunaan ritual adat kematian (Wara), di Polres Barito Utara (Barut), Kalimantan Tengah, menemui titik terang. Hal ini setelah di sepakati dalam waktu dekat akan diadakan pertemuan semua lembaga adat yang akan dipasilitasi oleh Pemerintah Daerah setempat.

Masalah ini terkuak ke permukaan setelah sebagian masyarakat umat Hindu kaharingan, meminta bantuan kepada lembaga adat dan tokoh masyarakat yang ada di Barut, dikarenakan ritual adat Wara yang tidak henti-hentinya dalam beberapa tahun terakhir ini.

Aryosi Jiono SPd, Ketua Pemuda Hindu Kaharingan Barut menyampaikan, ada beberapa titik Kegiatan wara adat khususnya di Barut, beberapa ke anehan dan kejanggalan, kenapa kegiatan Usik Liaw atau sering di katakan Judinya sampai berbulan-bulan dan waktu yang kurang tepat untuk penetapan hari Ritualnya, yang mencadi sorotan di bidang ke Agamaan Khususnya Agama Hindu Kaharingan.

” Ritual wara merupakan ritual rukun terakhir umat hindu kaharingan di Kalimantan Tengah khususnya Barito Utara, ritual yang menggunakan biaya kisaran Rp 100 sampai Rp 200 juta ini merupakan bentuk implementasi syukur anak cucu atau keluarga Liau (alm) yang lebih dulu meninggal dunia agar roh nya menjadi suci dan mendapat tempat terbaik dilewu tatau atau surga,” kata Aryosi di Muara Teweh, Selasa (29/5/2019).

Ia menambahkan, apabila dalam pelaksaannya ada indikasi oknum mengambil keuntungan dengan cara tidak benar atau judi yang dipelesetkan menjadi usik liau maka niat suci yang mulia itu menjadi sia-sia, karena hakekatnya pelaksaan ritual tersebut dilaksanakan dengan pengorbanan yang selanjutnya mengharapkan berkat dari alam dan arwah para lelulur yang disucikan.

Baca Juga :   Danramil 07/Kembangan: Ayo Generasi Muda Menjadi Tunas Muda Yang Maju dan Berkembang

” Secara pribadi saya selaku ketua pemuda hindu Barut, mengutuk keras kegiatan ritual abal-abal yang lebih mengutamakan perjudian, karena mencidrai hati umat hindu kaharingan selaku pemilik ritual wara dan tiwah,” ucapnya.

Lebih lanjut Aryosi mengatakan, dengan penuh tanggungjawab saya selaku sekretaris lembaga tandak yang menangangi ritual dan budaya meminta kepada pihak terkait agar intens mengawasi wara abal-abal yang sering dilakukan oknum tidak bertanggungjawab agar diambil sikap dan tindakan.

” Tidak mesti harus dilaporkan lembaga agama hindu atau masyarakat karena perjudian melanggar undang – undang dan aturan toh bila pihak terkait mengijinkan mohon agar tidak atas dasar ritual wara dan tiwah umat hindu tetapi secara resmi perjudian dan dibuatkan tempat khusus. Keluarga besar kami di Desa Juju Baru dan Hurung Enep sudah mmbuktikan dengan melaksakan ritual wara yang sebenarnya atas petunjuk kandong dan berpatokan pada pelaksaan leluhur,” pungkasnya.(Hison)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: