RSUD Muara Teweh, Dituding Gunakan Dana Hasil Keuntungan untuk Pelesiran ke Bali

oleh -211 views

TEWENEWS, Muara Teweh – Pernyataan Humas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muara Teweh yang menyebutkan keberangkatan rombongan Direktur RSUD Muara Teweh, Kalimantan Tengah, ke Bali untuk pelatihan hemodialisis berbuntut panjang. Sejumlah kalangan menuding pernyataan humas itu bohong.

Melalui pesan Whatsapp sebuah sumber menyebutkan humas berbohong, karena pelatihan yang di ikuti dr Riahdo, sudah di laksanakan tiga bulan yang lalu. Sekarang sudah datang, kecuali dua orang perawat hingga kini masih pelatihan di RSUD Badung Bali.

Selain itu sumber juga menghubungkan pejabat yang berangkat sekarang berlatar belakang pendidikan sarjana perikanan dan pertambangan, tidak ada hubungannya dengan pelatihan hemodialisis atau cuci darah. Karena yang berangkat seharusnya ranah spesialis penyakit dalam.

“Sesuai SPPD pelatihan itu dilaksanakan tiga bulan yang lalu, jadi keberangkatan mereka ke bali memang untuk pelesiran mengunakan uang keuntungan rumah sakit,”kata sumber yang minta di rahasiakan namanya.

Baca Juga :   Waduuh!! RSUD Muara Teweh Lakukan Bisnis

Sumber juga menuding, uang rumah sakit tidak di setorkan ke kas daerah, semuanya masuk rekening koran RSUD Muara Teweh. Rinciannya hasil sebanyak 44 persen untuk insentif perawat dan dokter. sisanya 56 persen untuk kas Rumah Sakit Muara Teweh.

“Jadi untuk dana belanja dan jalan-jalan dan lain-lain di ambil dari 56 persen tersebut. Pengambilan dana suka-suka dengan dasar Perbup. Adapun penghasilan rata-rata Rp2,5 milyar pertahun,”ungkap sumber.

Dilain pihak dikonfirmasi ulang, Direktur RSUD Muara Teweh drg Dwi Agus Setijowati menegaskan, kaji banding di RS Badung Bali untuk lebih fokus dalam tata kelola pelayanan hemodialisa. Sedangkan dr Riahdo dan dua perawat yang diikutkan pelatihan adalah menyangkut tata laksana pelayanan hemodialisa bukan di tata kelolanya atau managemennya.

“Kenapa diberangkatkan sarjana perikanan dan pertambangan, karena bukan kesarjanaan tetapi sesuai tupoksi jabatannya sebagai managemen yang mampu untuk pelaksanaan pelayanan hemodialisa scr optimal,”tegas Direktur RSUD melalui pesan Whatsaap humas Agus Redha, Rabu (31/10/2018).

Baca Juga :   Ternyata, Sudah Dua Kali Barang Pasien Digondol Maling di RSUD Muara Teweh

Menurutnya, pelaksanaan kaji banding tersebut melalui mekanisme yang panjang diantaranya, menginventarisasi RS yang tipe C atau B yang melaksanakan pelayanan hemodialisa, akreditasi paripurna, pelayanan cahtlab dan program unggulan.

Dalam hal itu direktur mengajukan nota pertimbangan ke pimpinan sebagai ownernya RSUD Muara Teweh yaitu bupati untuk kaji banding dengan pertimbangan tertentu. Koordinasi dengan sekda tentang notim kaji banding tersebut.

Baca Juga :   Inilah Alasan Sembilan Belas Karyawan PT AGU Minta di PHK

Setelah persetujuan selesai, dimasukkan dalam RBA Badan Layanan Usaha Daerah (BLUD) RSUD Muara Teweh. Dalam hal itu ada tiga RS yang di surati untuk kaji banding. Ketiganya mendapat jawaban, yang selanjutnya kita pilih RS yang sesuai dengan anggaran yang disiapkan karena ada kontribusi harus dibayar.

Direktur RSUD amat keberatan dengan tudingan bahwa pengunaan uang RS di gunakan seenaknya sendiri. Pengunaan dana BLUD selalu melewati mekanisme tertentu sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

“Keberangkatan dijadwalkan setelah event-even penting berlalu. yakni selesainya event penilaian survei akreditasi, penilaian pelayanan prima dan Porprov,”kata Dwi Agus, Direktur RSUD Muara Teweh.(Tim)