Setoran Debitur Ratusan Juta Ditilap Oleh Karyawan BRI Cabang Buntok

oleh -292 views

TEWENEWS, Tamiang Layang – Sidang gugatan oleh Dedy Irawan selaku Debitur, melawan oknum karyawan kredit Bank Rakyat Indonesia (BRI) Djarau Srikaya sebaigai tergugat I dan pinpinan Bank Rakyat Indonesia (BRI) cabang Buntok sebagai tergugat II, yang diduga menggelapkan uang setoran 700 Juta Rupiah memasuki agenda sidang mendengar keterangan saksi di Pengadilan Negeri Tamiang (PN) Layang kabupaten Barito Timur (Bartim) provinsi Kalimantan Tengah, Rabu (08/01/2020).

Dalam sidang penggugat meminta majelis hakim agar melakukan sita jaminan rumah tergugat I, memasuki agenda mendengar keterangan saksi, dari lima orang saksi yang diajukan kuasa hukum Kuasa Hukum Penggugat, satu orang ditolak oleh majelis hakim. Sidang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Roland P Samosir. SH, hakim anggota Helka Rerung, SH dan Beny Sumarno SH

Debitur adalah pihak yang berhutang ke BRI, dalam hal ini Debitur adalah Dedy Irawan sebagai penggugat didampingi pengacaranya Wangivsy Eryanto, SH menggugat sita jaminan aset rumah dan tanah Djarau Atikala selaku tergugat I

Hairul Anwar (25) salah satu saksi yang dihadirkan penggugat menceritakan bahwa tergugat I, Djarau Atikala pernah mengambil uang setoran pokok dari pinjaman Dedi Irawan, sebanyak lima kali. Dari tahun 2017 hingga 2018.

“Saya pernah melihat saudara Djarau mengambil uang setoran ke Dedi Irawan. Untuk tahun 2018, saat ingat dibulan Mei dan Desember 2019 sejumlah 200 juta,” ungkapnya saat ditanya majelis hakim.

Ditambahkannya setelah mengetahui setoran pokok ke Bank tidak disetorkan saudara Djarau. Pihaknya berusaha menanyakan ke tergugat I Djarau dengan menghubungi lewat telpon dan SMS, namun tak pernah dibalas oleh saudara Djarau.

“Setelah didaftarkan ke PN Tamiang Layang, baru saudara Djarau ada menghubungi Dedi Irawan dan mengakui kesalahan dan siap bertanggungjawab, namun minta gugatan di PN dicabut”, paparnya.

Wagivsy Eryanto, SH yang merupakan kuasa hukum dari penggugat Dedi Irawan usai sidang menegaskan bahwa berdasarkan dari keterangan para saksi yang dihadirkan dipersidangan membuktikan bahwa para tergugat sah dan meyakinkan melakukan perbuatan melawan hukum.

“Dari keterangan saksi serta dikuatkan dengan alat bukti P. 5 sampai P. 9 membuktikan bahwa pertama tergugat I mengambilkan setoran dari klien kita dan benar tulisan tangan tergugat I. menulis tanda terima uang tersebut yang totalnya sebanyak 700 juta, ungkap Wangivsy.

Menurut Wangivsy, kedua saksi-saksi juga membenarkan pada saat bersamaan, anggsuran yang tidak disetorkan tergugat I juga saat membangun rumah di Buntok kabupaten Barito Selatan, berdasarkan fakta persidangan keterangan tukang, sejak ahir tahun 2017 sampai dengan tahun 2019 tergugat I membangun rumah dan sarang burung walet.

Kunci yang ketiga ada suara rekaman, SMS, ada rekaman telpon tergugat I yang mendukung gugatan klien kami, saat gugatan di ajukan ke PN, sudah dilakukan mediasi tergugat I menelpon klien kita dan mengatakan bahwa uang angsuran sudah disetiorkan kepada kasir BRI, ada saksi yang mendengarnya.

Ditambahkan Wangivsy, kenapa BRI kami jadikan tergugat II, karena dapat diberlakukan prinsip tanggungjawab atasan atau majikan (vicarious lability). Namun guna ‘aman’-nya, dapat menjadi pihak bank sebagai tergugat kesatu dan pihak oknum pegawainya yang telah menggelapkan dana anda sebagai tergugat kedua.

Dimana dalam petitum (pokok permintaan dalam gugatan) pengadilan menghukum para tergugat untuk membayar ganti rugi secara tanggung renteng.

Klien kita ini melakukan pinjaman kepada bank BRI Rp. 850 Juta dengan addendum, sudah dipotong 10 persen dengan isi perjanjian yang jelas, yang menjadi masalah angsuran klient kita ini diambil kerumah oleh tergugat I yang menangani bidang pinjaman kredit dengan nilai Rp 50, 100, 150 dan 200 Juta, dengan total setoran sebesar Rp 700 Juta, ternyata setoran tersebut tidak tercatat dipembukuan pembayaran.

Pada bukti yang kita serahkan ke Majelis Hakim pada sidang sebelumnya P. 5. sampai P. 9 ini penting, disitu adalah tulisan dan tanda tangan tangan tergugat I dan uangnya diambil dari rumah klien kita setangan, kerugiannya Rp. 700 Juta, lewat rekaman percakapan telepon berulang-ulang kali tergugat I mengatakan uang tersebut sudah disetorkan ke kasir.

Sementara itu perwakilan tergugat II, Hendra , SH saat ingin dikonfirmasi enggan berkomentar dan mengatakan tidak memiliki kewenangan untuk memberi statmen.

“Mohon maaf saya tidak bisa berkomentar, sebab tidak diberi kewenangan. Hanya menghadiri persidangan saja,” katanya. (Ahmad Fahrizali)