Sungai Liang Manuhung di Jangkang Baru Tercemar,Pemerintah di Mana ?

oleh -114 views

TEWENEWS,Muara Teweh – Sungai bukan sekedar jalinan air yang mengalir sampai ke muara, sungai adalah sumber kehidupan, riak airnya menyuburkan tanah dan kehidupan tetumbuhan di hutan, untuk menjadi sumber pakan satwa-satwa dan lainnya. Layaknya jaringan media sosial dimana manusia terhubung didunia maya, Sungai adalah pusat jaringan ekosistem hutan.

Masyarakat yang tinggal di sekitar tambang seharusnya layak mendapatkan kehidupan dan penghidupan yang lebih baik,mereka berhak mendapatkan keadilan, masa depan yang sehat dan lebih cerah dengan akses air bersih untuk mereka dan anak cucu mereka.

Otoritas pemerintahan yang terkait harus memantau dan melakukan investigasi secara lebih mendalam ke perusahaan-perusahaan pertambangan batubara yang melanggar standard nasional, dan mencemari lingkungan. Penegakan hukum harus diperketat, sanksi harus dipertegas, dan celah-celah regulasi harus ditutup.

Baca Juga :   Keluarga Besar Dinas PUPR Barut Buka Bersama Yayasan Panti Asuhan Khoirunnas

Infestigasi ke lapangan yang dilakukan wartawan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pada Kamis (29/3/2018) terkait laporan warga Jangkang Baru,Kecamatan Lahei Barat, bahwa sungai Liang Manuhung telah tercemar oleh limbah perusahaan.

Tampak secara kasat mata bahwa air sungai telah berubah warna kekuning-kuningan diakibatkan adanya limpasan air atau run of yang membawa sedimen lumpur atau pasir hal ini mengakibatkan kehidupan flora air sebagai habitat beragam fauna langka dan flora unik terganggu di kawasan sungai Liang Manuhung yang muaranya juga berperan penting secara hidrologis sebagai hulu dan daerah tangkapan air (catchment area) bagi sungai barito.

Baca Juga :   H.Tajeri Pertanyakan Dana Reklamasi Perusahaan Tambang Batu Bara

Riset dari Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Barito Utara pada tahun 2015 lalu menemukan fakta bahwa luas jalan yang tertimbun sedimentasi terdapat pengelolaan jalan tambang yang tidak sesuai kaidah pengelolaan jalan tambang sehingga terjadi limpasan air yang membawa sedimen lumpur dan pasir.

Ouner,PT.Pada Idi perusahaan tambang batu bara yang beroperasi di sekitar sungai Liang Manuhung saat di temui menyampaikan,bahwa pembukaan jalan houling memang ada dampak positif dan negatifnya,akan tetapi menurut Bintoro,dampak positifnya pasti lebih besar karena terbukanya akses jalan.

Bintoro mengakui bahwa apabila ada air hujan maka limpasan air akan turun ke sungai,kami tidak mungkin melapis jalan houling dengan tanah saja akan tetapi kita damping dengan tanah material dari Fires Tone,jadi ini yang menyebabkan ada perbedaan warna air.”Kita berupaya untuk mengatasi hal tersebut dan sekarang ini masih terus dilakukan,” ujar Bintoro.(agustian/tim)