Warga Pinang Tunggal Harapkan Saat Mediasi Haknya Bisa Terpenuhi

oleh -29 views

TEWENEWS, Tamiang Layang – Setelah menyampaikan laporan terkait uang plasma dari perusahaan perkebunan sawit yang belum disalurkan Kepala Desa (Kades) Pinang Tunggal Kecamatan Pematang Karau Kabupaten Barito Timur (Bartim) Provinsi Kalimantan Tengah, pihak Kepolisian akan mengupayakan mediasi.

Hal tersebut disampaikan warga Pinang Tunggal Yodalem “Hari ini kami dipanggil untuk melakukan klarifikasi, demikian pula Kades tapi secara terpisah”, ucapnya Rabu (20/01/2021).

Baca Juga :   Jajaran IMI Bartim Bagikan Masker Gratis Bagi Pengguna Jalan

Menurutnya, tadi diputuskan oleh pihak Polres akan dimediasi dalam minggu ini, mungkin untuk tempatnya akan dilaksanakan di kantor Polsek Pematang Karau.

“Hasil perundingan internal kami selaku warga, permaslahan ini hasilnya hanya ada dua opsi, pertama kembalikan hak masyarakat atau yang kedua teruskan proses ini secara hukum”, tegas Yodalem.

Sebelumnya warga melaporkan Kades Pinang Tunggal kepihak Polres Bartim, karena merasa tak dapat penjelasan dengan pasti dari kepala desa atas hasil dari pengelolalaan uang plasma sawit yang sudah berjalan selama 3 tahun, terhitung sejak tahun 2017 sampai saat ini tahun 2021 belum juga terbayarkan hasil plasma kebun sawit warga desa Pinang Tunggal, sementara uang plasma tersebut sudah disalurkan pihak perusahaan melalui rekening Kades.

Baca Juga :   Smansayang Selesaikan Tes Pembagian Jurusan IPA Bagi Siswa Baru

Dilanjutkan Yodalem, apabila memang hak masyarakat dikembalikan, yaitu sejumlah uang plasma dari perusahaan yang diterima, berdasarkan prin out atau bukti trasfer. Masyarakat menginginkan uang palama yang menjadi haknya dikelola sendiri dengan membentuk kelompok tani.

Baca Juga :   Lawan COVID - 19 Satlantas Polres Bartim Ingatkan Warga Agar Tingkatkan Kewaspadaan

“Kami berharap pihak Kepolisian bisa menjadi penengah permaslahan ini dan membatu menyelesaikan permasalahan, sehingga apa yang memang menjadi hak kami dapat kami terima”, pungkasnya. (Ahmad Fahrizali).