- Digitalisasi pasar tradisional di Surabaya bergerak dari sekadar wacana menuju praktik: pelatihan rutin, studio live, dan pendampingan komunitas pedagang.
- Fokusnya bukan hanya jualan online, tetapi membangun ekosistem yang mencakup pasokan, logistik, layanan pelanggan, hingga transaksi elektronik.
- PD Pasar Surya mengelola puluhan pasar dan mendorong pola “tutor sebaya” agar pedagang yang sudah mahir membantu yang lain.
- Pemkot mendorong pedagang beradaptasi dengan teknologi lewat pelatihan gawai, media sosial, dan toko online agar tetap kompetitif.
- Kolaborasi dengan platform dan perbankan mempercepat efisiensi, memperluas pemasaran digital, dan memperkuat pemberdayaan pelaku usaha.
Di Surabaya, pasar rakyat tidak lagi hanya dibaca sebagai ruang transaksi tatap muka yang ramai pada jam tertentu. Ketika pola belanja warga berubah dan pembelian kebutuhan harian makin sering dilakukan lewat ponsel, pedagang pasar mulai menata ulang cara mereka bertahan. Program digitalisasi yang bertahap—dari pelatihan live shopping, pemakaian studio sederhana, hingga pembenahan rantai pasok melalui koperasi—muncul sebagai jawaban yang lebih realistis daripada sekadar “pindah ke marketplace”. Dampaknya terasa pada hal-hal kecil yang sangat menentukan: foto produk yang rapi, kemasan yang aman, respons chat yang cepat, sampai opsi pembayaran non-tunai yang membuat pembeli nyaman.
Yang menarik, perubahan ini tidak selalu digerakkan oleh kampanye besar. Banyak praktik efektif lahir dari model belajar antar-pedagang: mereka yang lebih dulu mencoba jualan daring membagikan trik menata katalog, mengatur jadwal siaran langsung, dan menghitung ongkos kirim tanpa membuat harga jadi tidak masuk akal. Di titik ini, digitalisasi pasar tradisional di Surabaya tampil bukan sebagai proyek sekali jadi, melainkan rangkaian kebiasaan baru—di mana kios fisik tetap penting, tetapi kanal online menjadi “pintu kedua” untuk menggaet pelanggan lintas kota, bahkan luar pulau.
Digitalisasi Pasar Tradisional di Surabaya: Dari Kios Fisik ke Model Hybrid yang Menguntungkan
Program digitalisasi pasar tradisional diterapkan di Surabaya dengan pendekatan yang dekat dengan realitas lapangan: pedagang tetap berjualan di lapak, namun mulai membangun kanal online yang berjalan paralel. Banyak pedagang menyebutnya sebagai pola “hybrid”, karena transaksi bisa terjadi di dua dunia sekaligus. Pembeli datang untuk memilih langsung, tetapi pembeli lain memesan melalui chat, siaran langsung, atau katalog digital. Apakah ini menghilangkan fungsi pasar? Justru sebaliknya: lapak menjadi studio sekaligus gudang mini yang memvalidasi kualitas barang.
Di beberapa pasar, pelatihan dilakukan rutin, bahkan ada fasilitas studio yang dipakai bergantian untuk live shopping. Studio ini bukan ruang mewah; yang penting adalah pencahayaan, latar bersih, tripod, dan koneksi internet stabil. Detail kecil seperti ini sering menentukan keberhasilan pemasaran digital, karena pembeli online menilai kredibilitas dari visual dan cara penjual menjawab pertanyaan. Ketika pedagang bisa menunjukkan tekstur kain, ukuran, atau warna barang secara real time, rasa percaya meningkat dan potensi retur menurun.
Surabaya juga punya konteks kelembagaan yang unik. PD Pasar Surya menaungi banyak pasar tradisional, dan praktik edukasinya sering dilakukan lewat “gerilya” yang informal: pedagang yang sudah mahir dikumpulkan untuk berbagi pengalaman kepada pedagang lain. Metode ini terasa lebih diterima, karena bahasa yang dipakai sama-sama bahasa pedagang, bukan istilah teknis yang kaku. Dalam sebuah sesi, misalnya, pedagang senior akan menunjukkan cara menyusun pesan balasan cepat, menempelkan tautan katalog, dan mengatur jam tayang yang ramai penonton.
Seorang tokoh fiktif yang menggambarkan perubahan ini adalah Bu Rani, pedagang baju anak di kawasan utara Surabaya. Dulu ia mengandalkan pelanggan langganan dan pembeli yang lewat. Setelah ikut pelatihan live shopping, ia mulai menjadwalkan siaran dua kali seminggu. Ia tidak langsung menargetkan ribuan penonton; targetnya sederhana: 10 transaksi per siaran. Dalam tiga bulan, ia menemukan pola: produk setelan sekolah laku menjelang tahun ajaran, sementara jaket lebih cepat terjual saat cuaca dingin dan hujan. Ia juga belajar menulis deskripsi yang jujur, mengurangi konflik, dan membuat pembeli lebih percaya.
Pergeseran perilaku konsumen pascapandemi menjadi pemicu besar. Konsumen ingin serba cepat, praktis, dan bisa dibandingkan tanpa harus berputar dari kios ke kios. Namun pasar tradisional punya keunggulan yang tidak mudah ditiru ritel modern: variasi, fleksibilitas tawar-menawar, dan hubungan personal. Digitalisasi membantu mengemas keunggulan itu menjadi pengalaman belanja yang lebih ringkas. Ketika pembeli bisa menawar lewat chat dan tetap merasa “diajak ngobrol”, ciri khas pasar tetap hidup dalam format baru.
Dalam konteks daya saing, Surabaya juga bersinggungan dengan isu harga komoditas harian. Saat harga bahan pokok bergejolak, komunikasi harga secara transparan di kanal online membantu pedagang menjaga kepercayaan pelanggan. Pedagang bisa mengunggah pembaruan harga, memberi alternatif barang, atau menawarkan paket hemat. Untuk pembaca yang ingin memahami dinamika harga lokal, konteks ini sering dibahas dalam laporan seperti pergerakan harga cabai dan bawang di Surabaya, yang relevan karena komoditas seperti itu sangat sensitif terhadap musim dan pasokan.
Pada akhirnya, model hybrid memperluas jangkauan tanpa menghapus identitas pasar. Insight kuncinya: digitalisasi bukan memindahkan pedagang ke layar, melainkan memperbanyak pintu masuk pelanggan ke kios yang sama.

Infrastruktur Teknologi dan Transaksi Elektronik: QR, Dompet Digital, dan Kebiasaan Baru di Pasar Rakyat
Bagian paling terlihat dari digitalisasi adalah pembayaran. Namun membangun transaksi elektronik di pasar tradisional bukan sekadar menempel QR di meja. Ia adalah perubahan kebiasaan yang menyentuh kecepatan layanan, pencatatan, keamanan, hingga cara pedagang mengelola modal. Ketika pembayaran nontunai berjalan mulus, antrean berkurang, kembalian tidak lagi jadi masalah, dan pembeli yang jarang membawa uang tunai tetap bisa berbelanja.
Di Surabaya, dorongan penggunaan pembayaran digital beririsan dengan agenda literasi keuangan dan program ekosistem non-tunai. Pedagang memerlukan pendampingan agar tidak hanya “bisa menerima”, tetapi juga memahami rekonsiliasi: uang masuk ke rekening mana, kapan settlement terjadi, dan bagaimana menghindari salah nominal. Tantangan yang sering muncul justru sederhana: sinyal yang tidak stabil di sudut pasar tertentu, ponsel yang spesifikasinya terbatas, serta kebiasaan pedagang menyimpan bukti transaksi secara manual.
Untuk membuat perubahan ini bertahan, beberapa pengelola pasar menyusun rutinitas operasional. Misalnya, setiap pagi pedagang memastikan baterai ponsel penuh dan kuota cukup; setiap sore pedagang mengecek mutasi dan mencatat transaksi penting. Kebiasaan itu terdengar sepele, tetapi efeknya besar bagi efisiensi. Banyak pelaku usaha kecil selama ini kesulitan memisahkan uang dagang dan uang rumah tangga. Dengan transaksi elektronik, jejak penjualan lebih rapi sehingga pembukuan lebih mudah dibangun, bahkan jika masih sederhana.
Perubahan pembayaran juga berkaitan dengan keamanan. Mengurangi uang tunai menurunkan risiko kehilangan dan meminimalkan kesalahan hitung. Pedagang yang semula ragu sering berubah pikiran setelah melihat pembeli “lebih yakin” ketika opsi pembayaran lengkap. Pengalaman kota lain juga memberi pembanding. Misalnya, pembahasan tentang adopsi pembayaran nirkontak dapat dilihat pada praktik pembayaran nirkontak di Makassar, yang menunjukkan bahwa tantangan lapangan umumnya mirip: edukasi, infrastruktur, dan kebiasaan.
Surabaya sebagai kota besar juga banyak belajar dari dinamika digital di wilayah lain. Ketika layanan pembayaran makin terintegrasi dengan administrasi, warga terbiasa menggunakan aplikasi untuk beragam kebutuhan. Ini mengurangi hambatan psikologis saat mereka diminta membayar belanja pasar secara digital. Jika pembaca ingin melihat konteks lebih luas mengenai layanan publik digital, tautan seperti transformasi layanan administrasi digital memberi gambaran bagaimana kebiasaan digital warga kota terbentuk.
Untuk pedagang, transaksi elektronik membuka pintu lain: akses pembiayaan. Banyak lembaga keuangan menilai kelayakan usaha dari arus kas. Ketika transaksi terekam, pedagang lebih mudah menunjukkan performa penjualan. Hal ini selaras dengan tren pembiayaan UMKM berbasis data, yang juga dibahas dalam konteks daerah lain seperti pembiayaan digital bagi UMKM di Bandung. Walau konteksnya berbeda, benang merahnya sama: data transaksi adalah aset.
Di lapangan, pedagang juga belajar menyusun insentif untuk mendorong pembeli memakai pembayaran non-tunai, misalnya diskon kecil atau bonus produk. Namun strategi ini harus dihitung agar tidak menggerus margin. Pedagang yang matang biasanya mengikat insentif pada target: jika transaksi digital mencapai jumlah tertentu, bonus berlaku. Ini membuat program lebih terukur.
Insight kunci di bagian ini: transaksi elektronik bukan tujuan akhir, melainkan fondasi untuk pengelolaan usaha yang lebih rapi—dan dari situ, peluang lain seperti pembiayaan serta loyalitas pelanggan menjadi mungkin.
Untuk melihat diskusi dan contoh praktik tentang pembayaran dan transformasi kanal penjualan UMKM di perkotaan, banyak materi visual yang bisa dicari lewat video edukasi berikut.
Pemberdayaan Pelaku Usaha: Pelatihan, Studio Live Shopping, dan Tutor Sebaya di Pasar Surabaya
Keberhasilan digitalisasi pasar tradisional pada akhirnya bergantung pada manusia: seberapa siap pelaku usaha mengubah kebiasaan, mengelola waktu, dan belajar hal baru. Surabaya menonjol karena praktik pemberdayaan yang tidak selalu formal, tetapi terasa praktis. Ada pelatihan rutin di beberapa pasar, ada juga model tutor sebaya yang memanfaatkan pedagang “jago online” untuk mengajar rekan-rekannya. Pendekatan ini penting karena banyak pedagang lebih percaya pada contoh konkret daripada teori.
Pelatihan yang efektif biasanya tidak dimulai dari aplikasi rumit. Materinya bertahap: cara memotret produk dengan cahaya yang baik, menulis judul yang mudah dicari, membuat daftar ukuran dan warna, serta merespons komplain dengan kalimat yang tidak memancing konflik. Setelah itu barulah masuk ke strategi pemasaran digital: menentukan jam unggah, membuat promosi bundling, dan memanfaatkan fitur siaran langsung. Dengan langkah kecil, pedagang merasa progresnya nyata.
Di Surabaya, keberadaan studio live yang bisa dipakai bergantian menjadi akselerator. Studio membantu pedagang yang belum punya ruang layak di kiosnya. Selain itu, studio membentuk disiplin: pedagang harus mendaftar jadwal, menyiapkan barang sebelum sesi, dan menutup penjualan dengan rekap order. Ini melatih pola kerja yang lebih profesional tanpa menghilangkan gaya khas pasar. Kualitas konten meningkat, pembeli pun cenderung kembali.
Kolaborasi dengan platform juga memperkuat. Setelah pandemi, banyak layanan pengantaran dan belanja harian berkembang pesat. Inovasi platform—misalnya mengalihkan pengemudi dari penumpang ke pengantaran groceries—membantu pasar tradisional masuk ke kanal online tanpa harus membangun armada sendiri. Dari sisi pedagang, ini memangkas hambatan logistik, apalagi untuk produk yang cepat rusak seperti sayur dan buah. Efeknya bukan hanya penjualan naik, tetapi juga efisiensi operasional karena pedagang tidak perlu meninggalkan kios untuk mengantar.
Di tengah upaya pemberdayaan, aspek layanan pelanggan sering menjadi pembeda. Pendengar radio, komunitas warga, hingga pembeli lama sering menyoroti pentingnya packaging dan pelayanan. Untuk produk pakaian, kemasan yang rapi dan label ukuran mengurangi komplain. Untuk bahan makanan, pemilahan kualitas dan catatan penyimpanan membuat pembeli percaya. Hal-hal sederhana itu berkontribusi pada rating dan repeat order. Digitalisasi memaksa standar layanan naik, tetapi hasilnya bisa terasa adil bagi pedagang: pembeli yang puas cenderung tidak terlalu “menawar habis-habisan”.
Agar materi pemberdayaan makin relevan, beberapa program menautkan digitalisasi dengan literasi keuangan keluarga. Pedagang yang penghasilannya fluktuatif butuh cara mengatur kas. Program literasi semacam ini banyak diangkat di berbagai daerah, misalnya inisiatif literasi keuangan berbasis komunitas, yang dapat menginspirasi format pendampingan: memakai bahasa sederhana, contoh sehari-hari, dan latihan pencatatan.
Berikut daftar praktik yang paling sering dianggap “langsung terasa” oleh pedagang saat mengikuti program pemberdayaan:
- Template balasan cepat untuk pertanyaan ukuran, warna, dan stok agar respons tidak lambat.
- Ritual foto harian: 5–10 produk difoto ulang dengan pencahayaan konsisten untuk menjaga kualitas katalog.
- Jadwal live shopping yang tetap (misalnya Selasa dan Jumat malam) agar pelanggan punya kebiasaan menonton.
- Pencatatan ongkir dan retur dalam satu buku atau catatan digital sederhana supaya margin tidak “bocor”.
- Standar pengemasan per kategori barang (pakaian, pecah belah, sayur/buah) untuk menekan keluhan.
Insight kunci: pemberdayaan yang berhasil adalah yang membuat pedagang merasa “mampu” dulu, baru kemudian “tumbuh”—bukan sebaliknya.
Untuk memperkaya referensi tentang cara live shopping dan penataan konten produk, banyak contoh strategi praktis yang bisa dipelajari dari video panduan berikut.
Efisiensi Rantai Pasok: Peran Koperasi Pasar sebagai Distribution Center dan Penguatan Logistik
Digitalisasi sering dibahas dari sisi penjualan, padahal kunci daya saing pasar tradisional ada pada pasokan. Tanpa rantai pasok yang efisien, harga sulit stabil dan stok mudah kosong. Di Surabaya, gagasan penguatan koperasi pasar sebagai semacam pusat distribusi menjadi penting karena menyentuh akar masalah: pedagang kecil sering membeli stok secara eceran sehingga harga pokok lebih tinggi. Dengan belanja kolektif melalui koperasi, pedagang bisa mendapatkan harga lebih kompetitif, mirip praktik ritel modern.
Peran koperasi pasar juga membantu standarisasi. Ketika koperasi menegosiasikan kualitas dan jadwal kirim dengan pemasok, pedagang tidak perlu melakukan banyak koordinasi sendiri. Waktu pedagang bisa dialihkan untuk melayani pelanggan dan mengelola pemasaran digital. Di sini, efisiensi bukan jargon, tetapi terasa dalam rutinitas: lebih sedikit waktu habis untuk mencari barang, lebih sedikit biaya transport, dan lebih kecil risiko salah beli.
Hubungan antara koperasi dan kanal online juga menarik. Ketika promosi dan jasa kirim difasilitasi aplikasi, koperasi dapat menyuplai barang yang sedang laris berdasarkan data penjualan. Misalnya, saat penjualan bawang naik, koperasi bisa menambah pasokan lebih cepat. Data permintaan yang dulunya “perasaan” kini bisa didorong oleh angka. Ini membuat perencanaan lebih masuk akal, terutama untuk komoditas yang harganya mudah berubah.
Penguatan logistik Surabaya sebagai kota perdagangan turut mendukung. Dengan akses pergudangan, armada pengantaran, dan konektivitas antarwilayah, pasar tradisional punya modal besar untuk berkembang. Pembaca dapat melihat konteks infrastruktur logistik kota ini melalui pembahasan seperti pengembangan pusat logistik Surabaya, yang relevan karena kecepatan distribusi sangat berpengaruh pada kualitas produk dan ongkos kirim.
Di level operasional, pedagang yang sukses biasanya menyusun “peta stok” sederhana: barang cepat laku, barang musiman, dan barang pelengkap. Koperasi membantu memastikan barang cepat laku selalu tersedia dengan harga masuk akal. Untuk barang musiman, koperasi bisa membuka pre-order kolektif agar pedagang tidak menumpuk stok sendirian. Praktik ini mengurangi risiko barang tidak terjual, terutama pada produk fesyen yang cepat berubah tren.
Agar lebih konkret, berikut contoh skenario yang umum terjadi. Pak Dimas, pedagang sembako (tokoh hipotetis), selama ini membeli stok dari beberapa pemasok kecil. Harga dan jadwal kirim tidak konsisten, sehingga ia sulit membuat promo online yang stabil. Ketika koperasi pasar mulai berfungsi seperti distribution center, Pak Dimas bergabung dalam pembelian kolektif mingguan. Ia mendapatkan harga lebih baik dan kepastian stok. Setelah itu, ia berani membuat promo bundling di kanal online karena ia tahu margin dan ketersediaan barang. Dengan demikian, digitalisasi penjualan “ditopang” oleh digitalisasi pasokan dan manajemen.
Penguatan rantai pasok juga bersinggungan dengan isu ketahanan pangan dan keamanan produk. Kota-kota di Asia mendorong tata kelola pangan yang lebih ketat, termasuk traceability. Referensi kebijakan yang lebih luas dapat dilihat pada kebijakan keamanan pangan di Singapura, yang memberi gambaran arah masa depan: data asal barang dan standar kualitas akan makin penting, termasuk untuk pasar tradisional.
Komponen Ekosistem |
Masalah Umum di Pasar |
Solusi dalam Program Digitalisasi |
Dampak pada Efisiensi |
|---|---|---|---|
Pasokan barang |
Pembelian eceran, harga pokok tinggi |
Koperasi pasar melakukan belanja kolektif dan negosiasi pemasok |
Harga lebih kompetitif, margin lebih sehat |
Manajemen stok |
Stok sering kosong atau menumpuk |
Perencanaan stok berbasis data penjualan online |
Risiko kerugian turun, ketersediaan terjaga |
Pengiriman |
Pedagang sulit mengantar sendiri |
Kolaborasi jasa kirim dan aggregator belanja harian |
Waktu pedagang lebih fokus ke layanan dan promosi |
Pembayaran |
Antrean, kembalian, rawan salah hitung |
QR dan dompet digital untuk transaksi elektronik |
Transaksi lebih cepat, pencatatan lebih rapi |
Promosi |
Hanya mengandalkan pembeli lewat |
Live shopping, katalog digital, media sosial |
Jangkauan pasar meluas, repeat order meningkat |
Insight kunci: ketika koperasi berfungsi sebagai penguat rantai pasok, digitalisasi tidak lagi bertumpu pada “keahlian jualan” semata, melainkan pada sistem yang membuat pedagang kecil punya daya tawar.

Kolaborasi dan Inovasi Ekosistem: Pemkot, PD Pasar, Platform, dan Pembelajaran dari Kota Lain
Digitalisasi pasar tradisional di Surabaya berjalan lebih cepat ketika kolaborasi tidak berhenti pada pelatihan. Pemkot mendorong pedagang toko offline, pusat belanja, hingga grosir untuk mengikuti perubahan zaman. Di sisi lain, PD Pasar Surya menggerakkan jaringan pasar di bawahnya agar edukasi teknologi menyebar secara organik. Ketika dua arus ini bertemu—kebijakan dan praktik lapangan—program menjadi lebih membumi: pedagang tidak merasa digurui, tetapi didampingi.
Kolaborasi dengan sektor swasta juga memberi percepatan. Platform transportasi dan pengantaran mengisi celah logistik, sedangkan perbankan dan penyedia pembayaran membantu adopsi transaksi elektronik. Namun tantangan kolaborasi biasanya ada pada “bahasa tujuan”: pemerintah bicara pelayanan publik dan daya saing kota, platform bicara pengalaman pengguna, pedagang bicara margin harian. Program yang berhasil adalah yang mampu menyatukan tujuan-tujuan itu dalam indikator sederhana: transaksi meningkat, komplain turun, dan pelanggan kembali.
Surabaya tidak bergerak sendirian. Di Indonesia, digitalisasi pasar juga didorong oleh target nasional onboarding UMKM. Pada periode sebelumnya, capaian onboarding digital sempat berada di kisaran puluhan juta dan mendorong kementerian serta pemda mempercepat integrasi ekosistem. Dampaknya pada 2026 terasa pada meluasnya praktik pendampingan berbasis komunitas, bukan hanya seminar. Pedagang mulai terbiasa dengan modul pelatihan mikro: 30 menit praktik foto produk, 30 menit simulasi siaran langsung, lalu evaluasi penutupan transaksi.
Ada baiknya Surabaya juga belajar dari pengalaman pelatihan UMKM di luar negeri, terutama yang menekankan standar proses. Misalnya, gambaran praktik pelatihan di Asia Tenggara dapat dibaca pada program pelatihan UMKM di Hanoi. Perspektif semacam itu berguna karena menunjukkan bahwa pelatihan efektif biasanya menggabungkan tiga hal: contoh nyata, pendampingan setelah kelas, dan target yang terukur.
Kolaborasi lintas sektor juga berkaitan dengan inovasi teknologi yang lebih maju, termasuk pemanfaatan AI untuk logistik atau analitik permintaan. Banyak startup logistik kini memakai pemodelan rute agar pengiriman lebih cepat dan hemat biaya. Referensi mengenai arah inovasi ini dapat dilihat pada startup logistik berbasis AI. Walau pasar tradisional bukan perusahaan besar, manfaat AI bisa hadir dalam bentuk yang sederhana: rekomendasi jam kirim terbaik, prediksi permintaan musiman, atau pengelompokan pesanan agar ongkos kirim lebih efisien.
Di tingkat kota, budaya digital warga juga dipengaruhi layanan lain seperti parkir digital, pembayaran transportasi, dan layanan publik. Semakin banyak aspek hidup yang terdigitalisasi, semakin kecil resistensi belanja pasar dengan QR. Karena itu, membaca transformasi layanan perkotaan seperti perkembangan pembayaran digital di Jakarta membantu melihat gambaran besarnya: pasar tradisional akan lebih mudah berubah jika ekosistem kota mendukung kebiasaan digital warganya.
Terakhir, perubahan iklim dan faktor musiman juga memengaruhi operasi pasar, dari pasokan hingga jam ramai. Ketika curah hujan tinggi, kunjungan fisik bisa turun, dan kanal online menjadi penyangga omzet. Informasi mengenai pola hujan regional—misalnya prediksi hujan di Jawa—secara tidak langsung relevan bagi pengelola pasar untuk menyiapkan skenario: memperkuat layanan pesan-antar, memastikan kemasan tahan air, dan mengelola stok komoditas yang sensitif cuaca.
Insight kunci: kolaborasi yang paling bernilai bukan yang paling ramai seremoni, melainkan yang membuat pedagang mampu mengulang proses yang sama setiap hari—memotret, mempromosikan, melayani, mengirim, dan mencatat—dengan standar yang makin baik.