universitas di surabaya melakukan penelitian baterai ramah lingkungan untuk kendaraan listrik, mendukung inovasi teknologi hijau dan masa depan transportasi berkelanjutan.

Universitas di Surabaya teliti baterai ramah lingkungan untuk kendaraan listrik

En bref

  • Universitas di Surabaya mempercepat penelitian baterai ramah lingkungan untuk kendaraan listrik, dari pemantauan kondisi hingga rancangan daur ulang.
  • Proyek seperti REVOLT menggabungkan IoT dan AI untuk menilai “kesehatan” baterai bekas dan memprediksi risiko gagal fungsi.
  • Gagasan sharing economy membuka jalur sewa baterai rekondisi agar kebutuhan produksi baru menurun dan limbah elektronik terkendali.
  • Kolaborasi lintas negara (misalnya ITB–Curtin) menekankan desain baterai sejak awal agar lebih mudah diproses ulang dan bernilai ekonomis.
  • Pertumbuhan pasar mobil listrik memaksa ekosistem: standar, insentif, industri daur ulang, hingga integrasi dengan energi terbarukan dan teknologi hijau.

Di Surabaya, percakapan tentang kendaraan listrik tidak lagi berhenti pada “berapa jaraknya” atau “di mana stasiun pengisian”. Di bengkel kampus dan ruang uji, isu yang lebih mendasar sedang dikejar: bagaimana membuat baterai menjadi lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan sejak lahir, saat dipakai, sampai ketika ia tak lagi layak mendorong roda. Sejumlah universitas menempatkan baterai sebagai pusat strategi transisi, bukan sekadar komponen. Mereka meneliti sensor, algoritma, dan model bisnis yang membuat baterai bekas tetap berguna tanpa menambah risiko keselamatan. Di sisi lain, diskusi kebijakan dan industri menyoroti bahwa baterai habis pakai masuk kategori limbah berbahaya, sementara infrastruktur pengelolaan belum merata. Di tengah percepatan adopsi mobil listrik, riset yang “membumi”—menghubungkan laboratorium, industri, dan perilaku konsumen—menjadi penentu apakah transformasi ini benar-benar ramah lingkungan. Dan di situlah Surabaya mengirim pesan: inovasi baterai bukan urusan satu pihak, melainkan rantai nilai yang harus rapi dari hulu ke hilir.

Penelitian universitas di Surabaya: baterai ramah lingkungan untuk kendaraan listrik sebagai agenda utama

Di banyak kota besar, narasi kendaraan listrik sering berfokus pada unit yang terjual dan lokasi pengisian daya. Surabaya memilih pintu masuk lain: memperkuat penelitian baterai agar siklus hidupnya lebih panjang dan dampaknya ke lingkungan lebih kecil. Di lingkungan kampus, pendekatan ini terasa praktis. Para dosen dan mahasiswa melihat baterai sebagai “organ hidup” yang menua: performanya menurun perlahan, kadang menampilkan gejala panas berlebih, kadang tampak normal tapi menyimpan risiko. Maka, alih-alih menunggu baterai rusak dan menjadi limbah, riset diarahkan untuk mendeteksi penurunan sejak awal dan merancang pemanfaatan ulang yang aman.

Salah satu contoh yang banyak dibicarakan di Surabaya adalah proyek REVOLT yang digerakkan tim riset Electric Vehicle on Study (EVOS) di Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga. Aktivitas eksperimen berpusat di workshop kampus selama 2025, melibatkan mahasiswa Teknik Industri dan pendampingan dosen pembimbing. Yang menarik, proyek ini menempatkan teknologi hijau bukan sekadar label, melainkan metode: data real-time, klasifikasi kondisi baterai, lalu keputusan operasional yang mengurangi pembuangan dini.

Di tingkat kota, kebutuhan riset ini makin masuk akal karena penggunaan kendaraan listrik meningkat dari tahun ke tahun, baik motor maupun mobil. Dalam kondisi seperti itu, pertanyaan kuncinya: ketika baterai mencapai titik penurunan performa, apakah harus langsung diganti dan dibuang? Jika mengikuti perspektif keberlanjutan, jawabannya seharusnya tidak. Baterai yang menurun kapasitasnya masih memiliki nilai. Ia bisa diarahkan ke aplikasi lain, misalnya sistem penyimpanan energi untuk rumah, UMKM, atau fasilitas publik, selama keselamatannya terukur.

Surabaya juga punya ekosistem manufaktur dan logistik yang kuat di Jawa Timur. Itu berarti peluang kolaborasi dengan industri lebih terbuka, namun sekaligus menuntut standar yang jelas. Riset kampus membantu menutup celah itu: menyediakan protokol uji, parameter kesehatan baterai, hingga rekomendasi desain agar modul mudah dibongkar-pasang. Pendekatan “design for recycling” seperti yang didorong kolaborasi internasional (misalnya ITB–Curtin) menjadi relevan karena memotong biaya dan emisi sejak tahap desain.

Transisi ini tidak terlepas dari gambaran besar energi nasional. Ketika kendaraan listrik dipasok listrik dari jaringan yang makin bersih, manfaat emisinya meningkat. Karena itu, diskusi baterai sering bersanding dengan agenda energi terbarukan. Untuk konteks pembiayaan dan iklim investasi, pembaca dapat menengok dinamika yang lebih luas lewat tren investasi energi terbarukan di Indonesia, karena baterai pada akhirnya adalah jembatan antara listrik dan mobilitas.

Di akhir percakapan, riset Surabaya menegaskan satu hal: baterai ramah lingkungan bukan produk yang “tiba-tiba jadi”, melainkan hasil konsistensi pengukuran, standar keselamatan, serta desain ekosistem yang membuat penggunaan ulang lebih mudah daripada membuang. Dan ketika kota kampus menaruh fokus pada siklus hidup, langkah berikutnya adalah membahas bagaimana teknologi itu benar-benar bekerja di lapangan.

universitas di surabaya melakukan penelitian baterai ramah lingkungan untuk kendaraan listrik guna mendukung transportasi berkelanjutan dan inovasi teknologi hijau.

Proyek REVOLT di Surabaya: IoT dan AI untuk memantau kesehatan baterai kendaraan listrik bekas

REVOLT menarik perhatian karena menyatukan dua kebutuhan yang sering bertabrakan: keselamatan dan efisiensi. Banyak orang ingin memanfaatkan baterai bekas karena lebih murah dan mengurangi limbah, tetapi khawatir terhadap risiko panas berlebih atau penurunan tegangan yang mendadak. Di sinilah IoT dan AI dipakai bukan untuk gaya-gayaan, melainkan sebagai “penjaga” yang terus memeriksa kondisi baterai dari waktu ke waktu.

Secara teknis, sistem yang dibangun mengandalkan sensor suhu, arus, dan tegangan yang terhubung ke mikrokontroler. Data dikirim ke cloud secara real-time, sehingga tim dapat melihat pola pemakaian harian: kapan baterai mulai naik temperatur, kapan arus puncak terjadi, serta bagaimana tegangan turun saat beban tinggi. Dalam praktiknya, data ini mirip catatan kesehatan. Tanpa catatan, orang hanya tahu “baterai terasa lemah”. Dengan data, tim bisa mengatakan “sel ini mengalami internal resistance yang meningkat” atau “ada anomali pada fase pengosongan”.

AI kemudian berperan untuk membaca pola yang terlalu kompleks bila dinilai manual. Model analitik memeriksa anomali, mengestimasi state of health, dan memprediksi potensi gagal fungsi. Ini bukan sekadar prediksi abstrak. Misalnya, bila baterai menunjukkan kenaikan suhu yang tidak sebanding dengan arus, sistem bisa memberi peringatan untuk menurunkan beban atau menjadwalkan inspeksi. Dengan cara ini, baterai bekas dapat digunakan ulang dengan kendali risiko yang lebih baik—sebuah syarat penting agar inovasi benar-benar ramah lingkungan dan tidak menimbulkan masalah baru.

Studi kasus kecil: dari baterai “hampir pensiun” menjadi daya tempuh harian

Agar terasa dekat, bayangkan tokoh fiktif: Dimas, kurir di Surabaya yang menggunakan motor listrik untuk rute pendek. Ia membeli baterai rekondisi yang telah melalui pengujian. Dalam pengujian internal proyek, baterai rekondisi tertentu mampu mencapai kapasitas sekitar 4.940 mAh dan stabil untuk jarak hingga 50 km dalam kondisi penggunaan tertentu. Angka seperti ini bukan janji universal—karena berat beban, gaya berkendara, dan kontur jalan berpengaruh—tetapi memberi sinyal bahwa baterai “bekas” tidak otomatis “habis”. Dengan pemantauan berbasis data, baterai rekondisi bisa menjadi opsi yang masuk akal untuk kebutuhan harian jarak menengah.

Hal lain yang membuat pendekatan ini menonjol adalah fokus pada prosedur. Rekondisi bukan sekadar mengganti sel lalu menutup casing. Ia mencakup pengecekan konsistensi sel, balancing, uji beban, serta validasi termal. Dengan sistem sensor, hasil uji bisa didokumentasikan dan ditelusuri. Bagi calon pengguna, transparansi ini penting karena membangun kepercayaan. Untuk industri, dokumentasi ini bisa menjadi dasar standar layanan purnajual yang lebih rapi.

Kenapa pendekatan data-driven penting untuk teknologi hijau?

Teknologi hijau sering dipahami sebagai alat yang hemat energi. Padahal, aspek “hijau” juga menyangkut keputusan: kapan sebuah baterai aman dipakai ulang, kapan harus dipecah modulnya, dan kapan harus masuk jalur daur ulang material. Keputusan ini tidak bisa bersandar pada intuisi saja. Data real-time membuat pemanfaatan ulang lebih akurat, mengurangi pemborosan, dan menekan risiko kecelakaan yang dapat merusak reputasi industri kendaraan listrik.

Menariknya, pola pikir seperti ini sejalan dengan transformasi digital di sektor lain. Kota-kota di Indonesia mulai terbiasa dengan transaksi cepat dan minim kontak—contoh di sektor pembayaran bisa dilihat dari perkembangan pembayaran nirkontak. Ketika masyarakat makin nyaman dengan platform digital, gagasan baterai yang “terhubung” dan diawasi jarak jauh menjadi lebih mudah diterima. Di ujungnya, REVOLT menunjukkan bahwa inovasi baterai bukan hanya soal kimia, tetapi juga soal sistem informasi yang membentuk perilaku baru.

Setelah teknologi pemantauan terbentuk, tantangan berikutnya adalah mengubahnya menjadi ekosistem yang berjalan—di sinilah konsep sharing economy memainkan peran besar.

Sharing economy baterai: sewa baterai rekondisi untuk menekan limbah dan biaya kendaraan listrik

Salah satu gagasan paling “berani” dari riset kampus di Surabaya adalah membawa konsep sharing economy ke baterai. Selama ini, sharing economy identik dengan berbagi kendaraan, berbagi hunian, atau berbagi ruang kerja. Namun baterai juga bisa diperlakukan sebagai aset yang diputar: ketika pemilik awal tidak lagi membutuhkan atau performanya menurun untuk kebutuhan utama, baterai itu tidak harus menjadi sampah. Ia bisa dialihkan lewat sistem sewa, dengan catatan status kesehatannya jelas dan ada penjaminan keselamatan.

Logikanya sederhana: produksi baterai baru membutuhkan material, energi, dan rantai pasok yang tidak kecil. Indonesia pun menghadapi kenyataan bahwa beberapa bahan baku kritis, seperti lithium, tidak tersedia melimpah secara alami. Karena itu, memperpanjang siklus hidup berarti mengurangi tekanan pada impor, mengurangi emisi dari proses produksi, dan meminimalkan volume limbah. Jika platform sewa baterai rekondisi berjalan, pengguna mendapatkan opsi biaya lebih rendah, sementara produsen/rekondisioner memiliki insentif untuk merawat aset agar umur pakai panjang.

Bagaimana platform sewa bisa bekerja secara praktis?

Model platform dapat meniru ekosistem layanan digital lain: ada inventaris baterai, data kesehatan baterai, riwayat pemakaian, serta skema deposit. Kunci pembeda dibanding sewa barang biasa adalah data. Baterai bukan kursi lipat; ia punya dinamika temperatur dan degradasi. Maka, sistem ideal menyertakan:

  • Skor kesehatan baterai (misalnya A–D) berbasis pengukuran tegangan, arus puncak, dan stabilitas termal.
  • Aturan penggunaan yang jelas: batas beban, batas temperatur, dan interval inspeksi.
  • Pelacakan melalui modul IoT agar penyedia bisa mendeteksi penyimpangan pemakaian.
  • Asuransi atau garansi terbatas untuk menumbuhkan rasa aman pengguna.

Di Surabaya, konsep ini terasa relevan untuk segmen tertentu: kurir last-mile, UMKM dengan kendaraan operasional jarak pendek, hingga komunitas motor listrik. Mereka sensitif terhadap biaya, tetapi tetap membutuhkan keandalan. Dengan sewa, biaya awal (capex) turun menjadi biaya bulanan (opex). Secara ekonomi, ini bisa mempercepat adopsi, terutama ketika harga mobil listrik dan baterai baru masih menjadi pertimbangan utama.

Hubungan dengan aturan limbah B3 dan tanggung jawab produsen

Baterai bekas kendaraan listrik di Indonesia diperlakukan sebagai limbah B3 sehingga penanganannya harus ketat. Model sewa membantu karena baterai tidak “lepas tangan” ke pengguna sepenuhnya. Penyedia layanan tetap memegang tanggung jawab untuk menarik kembali baterai saat mencapai ambang tertentu. Ini selaras dengan gagasan extended producer responsibility: produsen atau pengelola ekosistem ikut memastikan produk tidak berakhir di tempat pembuangan yang salah.

Diskusi publik dan industri juga menegaskan bahwa baterai yang kapasitasnya turun hingga sekitar 70% masih dapat bermanfaat sebagai penyimpanan energi, bukan untuk traksi kendaraan. Ini membuka cabang bisnis baru: baterai tahap kedua untuk storage system di rumah atau fasilitas komersial kecil. Ketika disambungkan dengan energi terbarukan seperti panel surya, baterai tahap kedua menjadi perangkat yang memperkuat ketahanan energi dan mengurangi beban puncak.

Transformasi ini membutuhkan kesiapan industri. Pabrik dan rantai pasok otomotif yang berkembang—misalnya basis produksi di Jawa—akan menentukan seberapa cepat model sirkular bisa diterapkan. Pembaca bisa melihat konteks industrialisasi kendaraan lewat perkembangan pabrik otomotif di Karawang, karena keputusan desain komponen sering ditentukan dari pusat produksi. Insight akhirnya jelas: tanpa model bisnis yang memutar aset, teknologi pemantauan hanya akan menjadi demo lab; dengan sharing economy, ia bisa menjadi kebiasaan pasar.

Kolaborasi riset dan desain untuk daur ulang: dari ITB–Curtin hingga kebutuhan regulasi Indonesia

Di luar Surabaya, dorongan menuju baterai ramah lingkungan juga datang dari kolaborasi akademik lintas negara. Salah satu yang menonjol adalah kerja sama peneliti Indonesia dan Australia yang dibahas dalam forum diskusi publik pada pertengahan 2025 di Jakarta. Benang merahnya jelas: tantangan terbesar bukan sekadar membuat baterai berdaya tinggi, melainkan membangun ekosistem agar baterai mudah diproses ulang secara ekonomis. Jika daur ulang terlalu mahal, ia akan berhenti di wacana.

Kolaborasi semacam ITB–Curtin mendorong ide “desain sejak awal untuk kemudahan daur ulang”. Ini terdengar sederhana, tetapi implikasinya besar. Misalnya, pilihan jenis perekat, model modul, standar baut, hingga cara penataan sel dapat menentukan apakah baterai bisa dibongkar cepat atau harus dihancurkan dengan biaya tinggi. Di level kebijakan, desain yang mudah didaur ulang juga memudahkan audit dan sertifikasi—dua hal yang penting jika pemerintah ingin memberi insentif berbasis kepatuhan lingkungan.

Pada saat populasi kendaraan listrik meningkat tajam (data pemerintah menunjukkan lonjakan besar dari 2023 ke 2024), perhatian ke baterai bekas makin mendesak. Pertumbuhan ini membawa konsekuensi: beberapa tahun setelah gelombang adopsi, gelombang baterai purna pakai akan menyusul. Jika sejak awal tidak ada jalur penarikan kembali, pusat pengumpulan, dan industri pemrosesan, beban lingkungan bisa berpindah bentuk dari emisi knalpot menjadi limbah elektronik.

Tabel ringkas: peta tantangan dan solusi ekosistem baterai berkelanjutan

Area
Tantangan utama
Arah solusi yang realistis
Contoh aktor
Desain produk
Baterai sulit dibongkar, material bercampur, biaya daur ulang tinggi
Design for recycling, modularisasi, standar komponen
Kampus, R&D pabrikan
Operasi & keselamatan
Risiko anomali termal, degradasi tidak terdeteksi
Monitoring IoT, analitik AI, protokol uji
Tim riset universitas, bengkel rekondisi
Model bisnis
Baterai bekas tidak punya nilai pasar yang jelas
Sharing economy, sewa, buyback, battery-as-a-service
Startup, operator armada
Regulasi
Status limbah B3, insentif belum selaras, pengawasan terbatas
Skema insentif penarikan kembali, standar daur ulang, sertifikasi
Pemerintah, asosiasi industri
Energi sistem
Manfaat emisi turun jika listrik masih dominan fosil
Integrasi baterai tahap kedua dengan energi terbarukan
PLTS atap, operator storage

Tabel ini menunjukkan bahwa solusi tidak berdiri sendiri. Ketika desain memudahkan pembongkaran, proses rekondisi dan daur ulang menjadi murah. Ketika monitoring membuat keselamatan terukur, model sewa lebih mudah diterima publik. Ketika insentif menutup “gap biaya”, industri berani berinvestasi.

Peran industri dan diskusi publik: dari taksi listrik sampai bus listrik

Pelaku industri—operator taksi, produsen mobil, hingga bus listrik—sering menyuarakan hal serupa: harga kepemilikan dan kepastian kebijakan menentukan kecepatan adopsi. Namun di balik itu, ada persoalan baterai yang sering luput: siapa yang menanggung biaya akhir masa pakai? Riset dan forum publik mendorong skema insentif agar pemilik tidak membuang baterai sembarangan, melainkan menyerahkannya ke jalur resmi yang bisa memanfaatkan ulang atau mendaur ulang.

Menariknya, dinamika inovasi di sektor lain memberi pelajaran tentang akselerasi ekosistem. Seperti halnya pertanian presisi yang memanfaatkan drone dan analitik untuk efisiensi, rantai pasok baterai juga butuh data dan otomasi. Untuk gambaran inovasi lintas sektor, lihat kisah startup agritech berbasis drone: prinsipnya sama, yaitu keputusan operasional berbasis data, bukan asumsi. Insight akhirnya: kolaborasi riset internasional memberi metode dan standar, sementara universitas di Surabaya memberi prototipe yang dekat dengan problem lapangan—kombinasi yang bisa mempercepat ekosistem baterai berkelanjutan.

Dari baterai bekas ke penyimpanan energi terbarukan: skenario penggunaan tahap kedua untuk Surabaya dan sekitarnya

Jika baterai tidak lagi ideal untuk mendorong kendaraan, bukan berarti ia selesai. Banyak baterai masih memiliki kapasitas yang cukup untuk tugas yang lebih “ringan” dan stabil, seperti penyimpanan energi. Inilah logika penggunaan tahap kedua: menempatkan baterai purna kendaraan sebagai penyangga listrik untuk rumah, kios, fasilitas kampus, atau gedung komunitas. Di wilayah seperti Surabaya dan sekitarnya, skenario ini relevan karena kebutuhan listrik perkotaan tinggi, sementara adopsi energi surya atap mulai meningkat.

Bayangkan sebuah koperasi warga yang memasang panel surya di atap balai RW. Siang hari, listrik surplus disimpan. Malam hari, listrik dipakai untuk penerangan, CCTV, atau pengisian perangkat. Jika baterai yang digunakan adalah baterai tahap kedua dari kendaraan listrik, biaya investasi bisa lebih rendah dibanding membeli baterai baru, asalkan sistem manajemen baterainya memadai. Baterai tahap kedua harus dipasangkan dengan BMS (battery management system) yang disiplin, ventilasi yang baik, dan pengaman arus. Di sinilah hasil penelitian universitas menjadi krusial: standar uji, data kesehatan, serta pemodelan risiko menjadi “paspor” baterai untuk berpindah peran.

Anekdot operasional: UMKM es kopi dan listrik yang stabil

Ambil contoh fiktif lain: Rani, pemilik kedai es kopi di Surabaya Barat. Ia sering mengalami fluktuasi listrik saat jam ramai, yang mengganggu mesin espresso dan freezer. Dengan paket storage sederhana berbasis baterai tahap kedua, ia bisa meratakan beban puncak. Biaya listrik lebih terkendali, dan operasional lebih stabil. Jika baterainya dipantau dengan IoT seperti konsep REVOLT, penyedia layanan bisa menjadwalkan perawatan sebelum terjadi masalah. Model ini menjadikan baterai sebagai layanan, bukan barang sekali beli.

Kenapa ini penting bagi “ramah lingkungan” secara menyeluruh?

Klaim ramah lingkungan pada kendaraan listrik sering diperdebatkan karena jejak produksi baterai dan sumber listrik. Penggunaan tahap kedua memperbaiki neraca lingkungan karena energi dan material yang sudah “tertanam” dalam baterai dimanfaatkan lebih lama. Pada saat yang sama, storage membantu integrasi energi terbarukan yang sifatnya intermiten. Dengan kata lain, baterai tahap kedua dapat memperkuat dua agenda sekaligus: mobilitas bersih dan listrik yang lebih hijau.

Untuk Surabaya, peluangnya juga bersifat edukatif. Kampus dapat menjadikan storage tahap kedua sebagai laboratorium hidup: mahasiswa menganalisis performa, masyarakat melihat manfaat langsung, dan pemerintah kota mendapat data untuk menyusun kebijakan. Ini bisa mendorong standar lokal: bagaimana cara menyimpan baterai dengan aman, bagaimana prosedur pemadam kebakaran disiapkan, dan bagaimana jalur pengumpulan baterai dibangun.

Pada akhirnya, baterai ramah lingkungan bukan hanya soal bahan kimia yang “lebih hijau”, tetapi juga tentang bagaimana kita memperpanjang nilai guna dan mengurangi risiko di setiap transisi peran. Dan ketika Surabaya memadukan riset kampus, model bisnis sewa, serta skenario storage untuk energi terbarukan, ekosistem kendaraan listrik menjadi lebih matang—bukan karena slogan, melainkan karena sistemnya bekerja.

Berita terbaru
Berita terbaru